Wisata & Budaya

Lenggang Cisadane Hasil Akulturasi 4 Budaya

Written by Redaksi Utama on .

Tari Lenggang Cisadane, siapa yang tak tahu tarian tradisional ini? Meskipun terhitung baru, tari khas dari Kota Tangerang pada 2011 lalu itu, langsung booming dan dipelajari oleh pecinta tarian tradisional. Sang maestro adalah M.Yunus Sanusi, pria asli terlahir dari tanah sunda yang kini menetap di Jalan Imam Bonjol, Gg Kartini, Kelurahan Bojong Jaya, Karawaci, Kota Tangerang, akan menjelaskan lebih rinci sejarah asal usul gerakannya.

Semakin terkikisnya nilai budaya lokal di kehidupan remaja, khususnya siswa, membuat pria yang sehari-hari melakoni sebagai guru seni dan budaya ini terdorong untuk menciptakan Tari Lenggang Cisadane.

“Saya membuat ini dalam rangka pelestarian budaya bangsa yang sekarang kian terkikis, dan mengembangkannya melalui para siswa di sekolah dan sanggar saya dan seluruh sanggar yang ada di Kota Tangerang,” tutur Yunus memberikan alasannya.

Seiring berjalan, Yunus mengaku bersyukur sekaligus bangga, sebab di 2011 Disporabudpar Kota Tangerang memberikan jalan dan arahan untuk karyanya. Sehingga pada tahun tersebut, ditetapkanlah Tari Lenggang Cisadane sebagai tarian tradisional dari Kota Tangerang.

Dari pemberian nama, Yunus mengaku terinspirasi dari nama sungai besar dan panjang yang membentang di sepanjang kota ini.

“Namanya saja legendaris, maka tak salah bila saya menorehkannya pada nama tarian yang saya buat ini,” ujar Yunus.

Keragaman budaya yang tumbuh dan berkembang di Kota Tangerang, sebutlah budaya Sunda, China, Jawa, Betawi, bahkan Melayu, masuk dan menjadi roh dalam Lenggang Cisadane.

Maka tak heran, bila kita melihat ada unsur budaya seperti tarian Jaipong, Tari Jali-Jali, dan percampuran kecerian para penari seperti orang China, akan melebur jadi satu sebagai Lenggang Cisadane.

“Dalam menyuguhkan tarian ini, saya berusaha untuk menggambarkan keceriaan, kecantikan, dan kelincahan gadis-gadis yang ada dikota ini. Unsur sopan santun dalam menyambut tamu juga saya tampilkan, sangat lengkap untuk menggambarkan karakteristik masyarakat di Kota ini,” tutur Yunus.

Tidak hanya memikirkan dari segi tarian , Yunus pun memikirkan unsur alat musik yang akan mengiringi tarian. Dengan mengajak sekitar 11 pemain musik, Yunus berhasil memberikan instrument musik khas. Alat musik seperti satu set gamelan salendro, gambang kromong, dan satu set marawis, seara paten selalu mengiri tarian ini.

“Saya bersama tim juga sudah merekam dan menyebar luaskannya dalam bentuk CD dan kaset, sehingga bagi siapapun yang ingn menarikan tarian ini, tak perlu repot lagi,” katanya. (Rie Rihana).

Share