id

Kota Tangerang Butuh Stadion. “Pak Stadion Pak”

By  Mar 07, 2017 | 12:32
Kondisi Stadion Benteng Tangerang yang tak terawat. Foto diambil Juni 2016. (Dok. Banten Hits)

Fenomena “Om Telolet Om” yang sempat menjadi viral di jejaring sosial dalam 3 bulan yang lalu menghebohkan dunia maya. Hal ini membuat setiap komentar di berbagai status Twitter, Facebook, Instagram dan media sosial lainnya dipenuhi oleh Spam komentar “Om Telolet Om” yang terkadang tidak ada relevansinya dengan isi dari status yang yang dikomentari dengan kata “Om Telolet Om” tersebut.

Hal ini hanya menjadi keisengan dan kesenangan sesaat bagi Netizen untuk sekedar komentar selain menyukai status media sosial seseorang apalagi status pada media sosial publik figur yang dikenal.

“Pak Stadion Pak” menjadi kata yang menjadi Favorit akhir-akhir ini bagi Netizen pecinta sepak bola khususnya para supporter setia Persikota Tangerang. Hal ini Penulis perhatikan dari setiap postingan yang dilakukan oleh Wali Kota Tangerang Bapak Arief R. Wismansyah khususnya di media sosial Instagram, komentar “Pak Stadion Pak” selalu muncul dan membuat penulis agak sedikit lucu. Memang belom terlalu viral tapi setidaknya komentar “Pak Stadion Pak” di setiap postingan instagram wali kota Harus menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Kota Tangerang.

Komentar “Pak Stadion Pak” yang ditulis oleh supporter setia Persikota merupakan kerinduan mendalam masyarakat Kota Tangerang akan keberadaan Klub Persikota dan keinginan masyarakat untuk Kota Tangerang memiliki stadion yang bisa dibanggakan oleh masyarakat. Apalagi wali kota sangat gencar-gencarnya membuat taman sebagai ruang terbuka publik. Hampir setiap pojok dan sudut di Kota Tangerang telah dibuat taman, namun hal ini dirasa tidak cukup oleh masyarakat karena masyarakat membutuhkan stadion sepak bola.

Persikota Tangerang merupakan klub sepak bola yang didirikan tahun 1994 tepat setahun setelah Kota Tangerang berdiri. Persikota Tangerang didirikan sebagai klub yang mewakili Kota Tangerang di kancah persepakbolaan Indonesia. Melalui Kongres PSSI tahun 1995, Persikota Tangerang disahkan menjadi anggota PSSI dan mengikuti kompetisi Liga Indonesia Divisi II. Tim ini berjuluk Bayi Ajaib yang didukung oleh kelompok supporter Benteng Mania atau Betman. Persikota Tangerang bermarkas di Stadion Benteng Tangerang yang juga merupakan markas dari Persita Tangerang.

Sebagai klub baru pada Divisi II Liga Indonesia 1995/1996, Persikota Tangerang memperlihatkan prestasi yang luar biasa yang berhasil menjadi juara. Setelah menjadi juara pada Divisi II Liga Indonesia 1995/1996, Persikota Naik tingkat dan bermain pada Divisi I Liga Indonesia 1996/1997 hasilnya pun luar biasa sehingga persikota bisa melaju ke Divisi Utama Liga Indonesia pada musim berikutnya. Terhitung dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2007 Persikota tangerang selalu bermain Pada Divisi Utama Liga Indonesia dan Persikota selalu menjadi kebanggaan masyarakat Kota Tangerang.

Persikota Mulai redup ketika keluarnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 yang direvisi dengan Permendagri Nomor 21 tahun 2011 yang melarang daerah untuk menanggarkan dana untuk klub sepak bola daerah, hal ini membuat Persikota mengalami kesulitan dana dan menjadi terkatung-katung sampai saat ini. Ditambah lagi sejak keluarnya fatwa haram Majelis Ulama Indonesia tahun 2012 akan sepak bola di Stadion Benteng Tangerang yang selalu terjadi kericuhan anntar suporter di Tangerang khususnya antara dua supporter sama-sama Tangerang yakni suporter Persita dan Persikota.

Kembali ke “Pak Stadion Pak” yang menjadi kata populer masyarakat Kota Tangerang akhir-akhir ini, pada dasarnya adalah keinginan masyarakat memiliki stadion di Kota Tangerang. Saat ini stadion yang ada di Kota tangerang adalah Stadion Benteng yang merupakan Stadion yang diresmikan pada 11 Januari 1989 silam ketika itu baru ada Kabupaten Tangerang yang wilayahnya melingkupi Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan saat ini.

Kejayaan Stadion Benteng yang menjadi kebanggaan Masyarakat Tangerang Raya perlahan-lahan mulai pudar setelah adanya larangan untuk bertanding di Stadion Benteng. Stadion Benteng kondisinya hari ini terlihat sangat memprihatinkan, ironis memang Stadion yang menjadi kebanggaan kondisinya tidak terawat. Kondisi Stadion jauh dari kondisi ideal sebuah stadion, pondasi bangunan yang sudah rusak rumput liar yang tumbuh dimana-mana ditambah sampah yang dibiarkan begitu saja di halaman stadion.

Keberadaan Stadion Benteng pun hari ini masih menjadi permasalahan serius antara Pemerintah Kota Tangerang dan Pemerintah Kabupaten Tangerang. Pemekeran Kota Tangerang tahun 1993 lalu, tidak serta merta aset milik daerah Kabupaten Tangerang diserahkan ke kota yang telah berusia 24 tahun, namun permasalahan penyelasaian dan penyerahan aset antara Kabupaten Tangerang yang berada di wilayah Kota Tangerang ke Pemerintah Kota Tangerang belum kunjung selesai.

Stadion Benteng statusnya merupakan aset Pemerintah Kabupaten Tangerang. Namun perawatannya tidak dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten, karena saat ini Kabupaten Tangerang sedang melakukan pembangunan stadion baru di Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang sebagai pengganti Stadion Benteng. Pemerintah Kota Tangerang pun untuk melakukan perawatan dan renovasi tidak memilik kewenangan karena Stadion Benteng masih aset Pemerintah Kabupaten Tangerang. Seperti informasi yang penulis dapatkan, memang sudah terjadi pembicaraan serius antara Walikota dan Bupati Tangerang terkait Stadion Benteng umumnya keberadaan aset pemkab di Wilayah Kota Tangerang, namun sampai hari ini kita belum melihat hasil yang nyata. Keberadaan Provinsi Banten pun belum bisa memutuskan penyelesaian terkait aset ini.

Sangat disayangkan masalah Stadion Benteng berlarut-larut. Permasalahan Stadion benteng sebenarnya bukan hanya terkait pengelolaan antara Pemerintah Kabupaten dan Kota Tangerang, namun juga harus diperhatikan akar permasalahan utama terkait sejarah persepakbolaan di Tangerang Raya. Untuk itu Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Tangerang khususnya Pemerintah Kota Tangerang bisa segera menyelesaiakan dan memulihkan kembali keberadaan Stadion Benteng.
  
Terlepas permasalahan Stadion Benteng, hendaknya Pemerintah Kota Tangerang bisa mewujudkan keinginan masyarakat Kota Tangerang untuk memiliki stadion yang bisa dibanggakan. Kita merasa taman sudah cukup banyak dan sering bongkar pasang setiap saat, namun pembangunan Stadion yang diinginkan masyarakat tidak juga terwujud. Harapan besar semoga Pemerintah Kota Tangerang bisa segera merealisasikan keberadaan stadion di Kota Tangerang sebagai kado 24 Tahun Kota Tangerang dan menjelang 5 tahun kepemimpinan Bapak Arief R. Wismansyah sebagai Wali kota Tangerang. "Pak Stadion Pak".

Penulis adalah Abdul Kadir, Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tangerang