id

Garin Melawan Zaman; Menghidupkan (Lagi) Nilai Kebangsaan

By  Apr 23, 2015 | 16:58
FOTO : www.pkspiyungan.org

Para pembaca dan penggali sejarah bangsa, kiranya mengenal HOS Tjokroaminoto sebagai tokoh penting perjuangan kemerdekaan. Lelaki yang berhasil mendidik tiga putra bangsa dari sekian banyak muridnya yang mencintai tanah air dan mampu menyebarkan pengaruh pemikirannya hingga detik ini ke seluruh penjuru tumpah darah Indonesia.

Pertanyaannya sekarang, berapa banyak generasi bangsa ini yang mau menenggelamkan diri dalam teks-teks sejarah? Sejauh mana teks sejarah yang dihadirkan di meja siswa mampu memberikan pemahaman yang terang benderang kepada generasi penerus mengenai sejarahnya sendiri?

Meskipun pendapat ini barangkali subjektif, tetapi saya berani mengatakan bahwa film adalah alat ajar yang paling efektif hari ini untuk menancapkan nilai-nilai nasionalisme serta rasa cinta tanah air, dan tentu saja, memahami perjalanan bangsa.

Untuk itu, meski saya tahu Garin Nugroho tidak memerlukan tepuk tangan saya, karena sudah jutaan tangan yang memberinya applause, saya tidak bisa menahan diri untuk mengatakan perasaan saya  setelah menyaksikan “Guru Bangsa: Tjokroaminoto,”  kurang lebih sama dengan apa yang saya rasakan usai menonton “Seven Samurai,” milik Akira Kurosawa.

Yang membedakan adalah, 24 jam setelah menonton karya Garin, saya masih belum bisa menyimpulkan, siapa guru bangsa sebenarnya dalam film tersebut? Garin-kah atau tokoh utama dalam garapannya? Betul film tersebut menceritakan sepak terjang Tjokroaminoto, tetapi saya merasa Garin menghantam dan meludahi hampir semua perilaku dan sifat buruk generasi hari ini, terutama kegemaran banyak kalangan memakai kacamata kuda dalam memandang suatu persoalan.

Seperti setting tahun 1895 di Ponorogo yang menceritakan seorang pribumi yang dipekerjakan sebagai penyerap karet yang digantung, dicambuk sampai kekentalan darahnya berceceran di atas serakan kapas, Garin menyampaikan bahwa orang Belanda yang ada di Nusantara pada masa itu membenci kehadiran mereka sendiri, karena saat itu seharusnya mereka menikmati musim dingin, dan tidak digigiti nyamuk.

Garin juga menyatakan, mereka adalah korban para politisi di Belanda yang hidup nyaman dan menikmati hidup dari hasil kerja para Belanda yang “dibuang,” ke Nusantara. Dan pada setting tahun  1916 Garin juga menunjukan, bahkan seorang Gubernur Belanda sekalipun hidupnya tidak enak dibandingkan saudara-saudaranya di Eropa yang tidak merasakan kesulitan air di bangunan megahnya, JP Stroom mengeluhkan keran yang sering tidak mengalirkan air pada bak mandinya.

Barangkali Anda merasa bahwa politisi kita hari ini tak ubahnya politisi di Belanda saat itu, hidup nyaman dari pajak rakyat, sementara rakyat sengsara atau harus pergi  jauh dari kampung halaman agar memiliki kehidupan layak. Garin menyindir politisi Belanda pada masa itu, dan meludahi politisi republik hari ini dengan cara yang elegan.

Sementara itu, kalimat yang meluncur dari mulut Reza Rahadian selaku pemeran Tjokroaminoto menegaskan pandangan Garin soal situasi yang sama dengan kekinian; “Jika pemimpin hanya bisa hidup dari pajak rakyat, maka celaka bangsa ini!” 

Film yang dibuat berdasarkan riset selama 730 hari tersebut juga menyuguhkan pandangan, tumbuhnya organisasi-organisasi di tanah air baik pada tahun 1906 maupun pada tahun 2014, memiliki kuantitas dan kualitas yang sama, banyak perkumpulan, tetapi umumnya hanya mementingkan kelompoknya masing-masing.

Lahirnya banyak organisasi massa yang seharusnya menjadi mesin penggerak meraih cita-cita bersama, justru menjadi golok yang menggorok leher saudara sendiri. Tjokroaminoto berdiri di antara kelompok yang bertikai, melerai dan membuka mata mereka, “Kalau Jawa dan Tionghoa Bersatu, Maka Subur Tanah Ini,” katanya.

Adegan ini sepertinya mewakili kegelisahan Garin tidak hanya pada wilayah pertumbuhan organisasi-organisasi dalam masyarakat, tetapi juga isu rasisme dan konflik antar agama yang terjadi saat ini.

Chelsea Elisabeth Islan yang berperan sebagai Stella, gadis muda yang lahir dari rahim ibu pribumi dan memiliki garis keturunan campuran berkali-kali menginterupsi  Tjokro dengan pertanyaan pertanyaan anak muda yang mencintai tanah airnya, dan jawaban-jawaban Tjokro saya curigai sebagai pesan pribadi Garin kepada anak muda, bahwa Tjokro sebagai guru bangsa hanyalah pendidik, penunjuk jalan menuju cita-cita bangsa, sedangkan masa depan, anak mudalah yang menentukan, pikirkan dan kerjakan sendiri, jangan selalu minta disuapi. Garin menunjukan kasih sayangnya kepada yang muda, dan di saat bersamaan mengharap kemandirian generasi.

Lewat Stella pula, garin nampaknya ingin mengkritik para jurnalis yang perannya sangat penting dalam mencapai cita-cita bersama, jurnalis yang menyajikan berita-berita kontra produktif dengan langkah maju menuju cita-cita besar perjuangan bangsa sebaiknya tidak ada, namun demikian kritik yang disampaikan tidak pedas, ia hanya menyentil dalam adegan yang menampilkan tumpukan surat kabar yang tidak dijual, ketika ditanya mengapa tidak dijual, Stella menyatakan bahwa ia tidak ingin berita tentang perpecahan organisasi pribumi semakin memperuncing pertikaian. Saya menduga, Garin sebal melihat wajah pers hari ini, tetapi sengaja memperhalus kritiknya karena walau bagaimanapun ia masih membutuhkan publikasi.

Saya kira Guru Bangsa cukup berhasil menyajikan pemahaman, bahwa yang disebut dengan pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintahan yang menyengsarakan rakyat tidak mesti dengan pertumpahan darah melibas orang-orang yang tidak sepaham, tetapi dengan dialog-dialog, melawan tanpa kekerasan dan radikalisme. 

Sementara respon beberapa penonton cukup mengejutkan, Guru Bangsa dinilai terlalu bertele-tele, senada dengan itu, durasi tayang dinilai terlalu panjang, sehingga tidak baik dari aspek bisnis jika film ditayangkan di bioskop, belum lagi waktu tayang 22 April 2015 di Studio XXI Cilegon dijepit dua film Hollywood selera pop.

Dalam hal itu, saya rasa Garin Nugroho sama bebalnya dengan Sutradara Teater Studio Indonesia Nandang Aradea, mereka tidak perduli mengerti tidaknya penonton terhadap karya mereka, yang penting adalah berkarya, sekalipun penonton baru mengerti setelah seribu kali menonton.

Terakhir, saya teringat kisah tentang Resimen Infantri Kompi E tentara Amerika dalam perang dunia kedua di Normandia, yang diproduseri oleh Steven Spielberg dan Tom Hanks. Alangkah indahnya, jika Guru Bangsa menceritakan pula perjalanan murid-muridnya, hingga semua tutup usia.  

Dian Sucitra

Dian Sucitra memulai karir jurnalistik di Banten Hits 2013 lalu, namun pada awal 2014 resign dan memutuskan bergabung dengan media lain di Banten. Pengujung 2014 kembali bergabung dengan Banten Hits lalu kembali resign pada Februari 2016 untuk bergabung di website seni dan budaya.