id

Manusia Modern, Kecemasan, dan Kapitalisme

By  Mar 01, 2015 | 04:08

Nyaris saban hari selama kurun 2013 hingga Februari 2015 ini, saya menjalani rutinitas sebagai "manusia kereta", sebuah sebutan bagi pengguna moda transportasi commutterline yang beroperasi di Jabodetabek. Kereta hari ini memang telah menjelma moda transportasi pilihan di kota besar seperti Jakarta.

Karena rutinitas itulah, setiap pagi dan sore hari saya berkesempatan menyaksikan bagaimana jutaan manusia berhamburan dalam perut raksasa

bernama Jakarta. Seperti halnya saya, jutaan manusia itu terlihat patuh sama rutinitas. Saya kagum sama mereka. Di antara mereka ada yang gigih bekerja, ada pula yang keras mengejar pendidikan.

Di tengah kepatuhan menjalani rutinitas itu, momen-momen kontemplatif acap kali hadir menghampiri saya. Sebuah pertanyaan cukup esensial menyeruak, "Kenapa kita begitu patuh sama rutinitas?". Terhadap pertanyaan itu, saya spontan menjawab, bahwa rutinitas adalah anak tangga kehidupan yang mesti kita naiki, karena proses pencapaian tak ada yang sim salabim.

Meski jawaban itu cukup menjadi "pereda" kegamangan saya, namun itu hanya sesaat. Kegamangan-kegamangan berikutnya terus muncul menghantui saya, bahkan semakin masif. Terlebih, ucapan pelukis Bartleff--tokoh ciptaan Milan Kundera dalam "The FarewellParty"--seolah lekat dalam ingatan.

"Di negeri ini, orang tidak menghargai pagi. Mereka bangun bergegas, dikagetkan oleh bel yang berbunyi dari jam mereka, lalu semua segera menghambur ke dalam kegiatan yang tak menyenangkan. Katakan kepadaku, bagaimana mungkin hari yang baik dapat dimulai dengan sikap tak pantas dan sekasar itu!" kata Bartleff dalam sebuah dialog dengan Klima, peniup terompet yang menjadi tokoh utama dalam cerita Milan Kundera.

Rutinitas akhirnya menjadi seperti dua sisi mata uang. Satu sisi adalah kepatuhan yang mengagumkan. Bagaimana tidak, mereka setiap hari berjuang membunuh malas untuk memperjuangkan hidup. Sementara sisi lain adalah kecemasan. Jangan-jangan rutinitas itulah kenyataan dari ramalan Herbert Marcuse--dalam "Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global" seperti diulas Valencius Saeng.

Menurutnya, neo-kolonialisme, neo-imperialisme, dan neo-alienasi, saat ini dijalankan dan dikemas dengan cara yang lebih halus, rasional, dan menarik.

"Segala penguasaan, pemerasan dan pengekangan dirancang dan dipraktikkan sedemikian rupa sehingga setiap individu merasa segala pembatasan serupa merupakan suatu keharusan, kebutuhan, dan kebaikan baginya dan masyarakat," katanya.

Rutinitas adalah ciri manusia modern. Rutinitas jika tak diimbangi perenungan, sangat berpotensi menghilangkan sifat kemanusiaan seperti peka, spiritualisme, dan lain sebagainya. Itulah kenapa kerap kita temukan, manusia-manusia modern yang "kelelahan" karena hidupnya seolah kehilangan makna. Mereka seperti roda yang dipaksa terus berputar hingga akhirnya aus dan berhenti berputar.

Seyyed Hossein Nasr, seorang pemikir terkemuka di dunia Arab menyebut, penyakit utama manusia modern adalah kehilangan sifat merenung dan cenderung menjadi pekerja.

Sampai pada titik ini, pertanyaan esensial dari mahluk bernama manusia--siapa aku? mau ke mana dan hendak ke mana aku?--layak menjadi titik awal untuk melakukan resection bagi mereka yang telah disorientasi, sehingga tak mengetahui lagi posisi mereka ada di mana.

Segala ilmu yang berhubungan dengan kebijaksanaan dan perenungan selalu mengingatkan, apa yang kita perjuangkan tak melulu untuk diri kita sendiri, melainkan juga harus berguna untuk lingkungan sekitar dan sesama. Inilah mungkin, kenapa manusia diciptakan ke bumi untuk menjadi khalifah... Wallahua'alam Bissawab...

Darussalam J. S

Memulai karir jurnalistik pada tahun 2003 di harian Fajar Banten (sekarang Kabar Banten, grup Pikiran Rakyat). Pernah bekerja di Global TV selama 2005-2013 dan di Info TV selama setahun. Darussalam juga pernah menerbitkan buku jurnalistik berjudul, "Korupsi Kebebasan, Kebebasan Terkorupsi". Kemudian dia mendirikan situs berita Banten Hits, 11 Februari 2013.