id

Menunggu Jalan Pedang Para Elit

By  Okt 19, 2014 | 05:25

Dalam sebuah surat kepada kawan dari Jerman (Krisis Kebebasan, 1988), Albert Camus mengungkapkan keberpihakan, saat Prancis yang dalam masa pendudukan Nazi tengah memperjuangkan kemerdekaan.

Meski secara terang menolak pendudukan Nazi, keberpihakan Camus yang saat itu tercatat sebagai warga Prancis tidak ditunjukkan dengan cara mengobarkan pariotisme, lazimnya dilakukan oleh nasionalis-nasionalis yang memperjuangkan tanah airnya dari penjajahan bangsa asing.

Dalam sebuah surat kepada kawan dari Jerman (Krisis Kebebasan, 1988), Albert Camus mengungkapkan keberpihakan, saat Prancis yang dalam masa pendudukan Nazi tengah memperjuangkan kemerdekaan.

Meski secara terang menolak pendudukan Nazi, keberpihakan Camus yang saat itu tercatat sebagai warga Prancis tidak ditunjukkan dengan cara mengobarkan pariotisme, lazimnya dilakukan oleh nasionalis-nasionalis yang memperjuangkan tanah airnya dari penjajahan bangsa asing.

Alih-alih mengobarkan patriotisme, Camus justru memberikan ujaran jika dirinya tak pernah percaya akan kekuatan kebenaran. Meski jika kebenaran diwujudkan dengan sungguh-sungguh, ia akan mengalahkan kepalsuan. Pada sisi lain, Camus juga menekankan pentingnya akal budi, karena akal budi besar pengaruhnya terhadap keberanian.

“....karena itu kami sekarang mau menempuh jalan pedang, sesudah yakin bahwa kami telah memiliki semangat...,” tulis Camus. 

Jalan pedang yang dikatakan Camus adalah ketetapan atas keyakinan ketika Camus dihadapkan pada pilihan; menolak pendudukan Nazi dan berperang dengan mengobarkan semangat nasionalisme, atau menempuh jalan lain. Jalan lain inilah yang ditempuh Camus. Jalan kemanusiaan sebagai jalan pedang.

“...Hampir seluruh waktu kami telah dihabiskan untuk mencari, apakah kami punya hak untuk membunuh orang lain, apakah kami diizinkan menambah derita dunia yang mengerikan itu..... maka pantas jika kami orang Prancis berpendapat bahwa kami memasuki peperangan dengan tangan bersih—sebersih tangan para korban. Dan kami akan keluar dari peperangan dengan tangan bersih pula, sambil membawa serta kemenangan besar atas ketidakadilan dan atas diri kami sendiri...”

Dari dunia Albert Camus, kita beralih ke kondisi Indonesia yang riuh akibat drama politik yang tak kunjung usai. Menjadi riuh karena rakyat terlalu serius berharap segala sesuatunya sesuai dengan semestinya, sementara keniscayaan dalam politik Indonesia adalah kesepakatan bukan bertolak dari kebenaran.

Dalam obrolan ringan di ruang redaksi dengan tiga orang kawan—saat itu kami tengah mencermati dinamika di DPR menyusul penetapan revisi UU Pemda, di mana ada klausul esensial soal pemilihan kepala daerah—kami terjebak dalam obrolan klise: bagaimana mungkin sebuah aturan yang mengatur seluruh kehidupan bernegara, bisa lahir dari sebuah lembaga politik?

Jika melihat begitu pentingnya peranan anggota DPR, maka lembaga bernama DPR sejatinya harus diisi oleh orang –orang yang sudah purna dalam urusan keduniaan, orang-orang yang tak lagi memiliki hasrat untuk memupuk kekayaan dan kesenangan. Bayangkan, dari tangan-tangan mereka akan lahir sebuah aturan yang mengatur kehidupan bernegara. Persoalannya kemudian, DPR sendiri saat ini masih diisi manusia biasa seperti kita yang rawan tergoda hasrat dunia.

Sampai di sini kemudian, apakah kita akan menyerah dengan keadaan? Jawabannya: TIDAK! Seperti yang diungkap Albert Camus, semua harus bersepakat memilih jalan pedang untuk menemukan jawaban terbaik bagi perbaikan di negeri ini.

Sebagai negara yang demokratis, pandangan politik Indonesia memang tak harus seragam. Tak jadi soal si A jadi anggota DPR dari partai anu, atau si Anu mewakili partai B untuk duduk di DPR. Terpenting, ketika sudah duduk menjadi wakil rakyat yang terhormat, maka segala atribut dan kepentingan partai harus dilepaskan, diganti dengan tekad mengabdi untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.

Saya ingat ketika diminta berbagi pengalaman oleh rekan-rekan reporter yang baru masuk di televisi tempat saya bekerja saat ini.  Seorang calon reporter mengungkapkan soal kesulitannya untuk membangun jaringan informasi sebagai modal utama dia.

Saya bilang, kuncinya ada di dalam pergaulan. “Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang tanpa harus membedakan latar belakangnya,” kata saya. Kemudian saya mengutipkan kalimat Karen Armstrong dalam Compassion, “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.”

Saya teruskan lagi berbicara, “Jika kemudian kita dengan masyarakat sudah tak ada jarak, maka kita akan merasakan detak jantung mereka, bahkan kita juga akan bisa mendengar ungkapan yang tersembunyi dari hati mereka. Mereka pun pasti tak akan segan-segan untuk memberikan informasi yang merupakan kebutuhan dasar kita sebagai jurnalis.”

Titik terpenting dari ungkapan saya kepada para reporter itu adalah, jika kita melakukan pendekatan dengan latar belakang agama, bisa saja orang yang sedang kita dekati beda agama dengan kita. Pun jika kita melakukan pendekatan dengan keyakinan politik yang kita anut, bisa jadi pandangan politik mereka berseberangan dengan kita. Tapi ketika kita melakukan pendekatan kemanusiaan, maka semua kepentingan akan bertemu.

Sampai pada kalimat terakhir, Bapak Pluralisme Indonesia Almarhum Gus Dur pernah berujar, “Tak penting aagama apa yang dianut oleh seseorang, selama dia bisa melakukan kebaikan bagi sesamanya.”

Kembali ke soal politik yang riuh. Saya kira, meski para anggota DPR bukan terdiri dari manusia pilihan yang sudah purna soal urusan keduniaannya, kita masih bisa berharap mereka akan menjadi yang terbaik untuk mewakili rakyat. Mereka harus memilih jalan pedang seperti yang digelorakan Albert Camus ketika menghadapi peperangan, yakni jalan kemanusiaan.....

Darussalam J. S

Memulai karir jurnalistik pada tahun 2003 di harian Fajar Banten (sekarang Kabar Banten, grup Pikiran Rakyat). Pernah bekerja di Global TV selama 2005-2013 dan di Info TV selama setahun. Darussalam juga pernah menerbitkan buku jurnalistik berjudul, "Korupsi Kebebasan, Kebebasan Terkorupsi". Kemudian dia mendirikan situs berita Banten Hits, 11 Februari 2013.