id

22 Jam Cinta di 22 Januari

By  Mar 22, 2015 | 07:40

Mataku masih saja mencari, seperti anak ayam kehilangan induk semang padahal rasionalitas pikiranku berkata, bahwa benar tidak akan pernah ada seorangpun yang aku kenal, atau seseorang datang menuliskan namaku pada sebuah kertas untuk menjemput. Suasana Bandar udara internasional Sultan Hasanuddin benar-benar asing bagiku benar-benar mengutuk dan menciutkan seluruh keberanian hidupku, aku seperti kehilangan kendali atas semua emosi kehidupanku.

Mataku masih saja mencari, seperti anak ayam kehilangan induk semang padahal rasionalitas pikiranku berkata, bahwa benar tidak akan pernah ada seorangpun yang aku kenal, atau seseorang datang menuliskan namaku pada sebuah kertas untuk menjemput.

Suasana Bandar udara internasional Sultan Hasanuddin benar-benar asing bagiku benar-benar mengutuk dan menciutkan seluruh keberanian hidupku, aku seperti kehilangan kendali atas semua emosi kehidupanku.

Tanpa tujuan pasti akhirnya aku berani melangkah meninggalkan orang-orang yang sedari tadi sibuk dengan dunianya juga tanpa menyadari bahwa ada orang yang sedang kehilangan sebagian napas hidupnya berdiri diantara mereka. Ingatanku menerawang kelam pada kehidupanku di masa lampau, perempuan muda ini terlalu sombong dan ambisi dalam menghadapi setiap skenario yang Tuhan suguhkan, dia terlalu bangga pada kehidupanya, dia terlalu asik pada kesibukanya, dia yah… seharusnya dia sudah menjatuhkan diri sedari tadi sebelum pesawat mendarat agar tak ada lagi beban kehidupan yang dideritanya.

“Hem, …”aku sedikit menarik napas panjang, kali ini meraih ponselku yang sedari tadi kumatikan atas intruksi para awak kapal, sebelumnya memang aku sudah mengirim BBM kepada seseorang yang telah menariku untuk menginjakan kaki ke tanah para tuan ini. Sudah lama aku menaruh perasaan terhadapnya karena ada 22 kata yang berhasil mengubah hidupku dalam setiap pesan yang dia kirimkan kepadaku, tapi sampai saat ini pesanku tak juga sampai padanya. Entahlah, aku sendiri tidak tau mengapa, yang pasti signal operator selulerku tidak sedang ada kendala, karena beberapa menit kemudian HP ku berdering sebuah panggilan masuk dari Adnan…

“Ya Hallo, kenapa sayang ? Yah.. aku sudah sampai, tolong berikan aku kesempatan kedua, 22 jam aku akan kembali kepadamu, tapi untuk saat ini aku harap ini telephone terakhir darimu, bebaskan aku sayang, aku ingin membuktikan dongeng-dongengku, aku ingin mengakhiri hantu dalam kehidupanku, aku ingin mencintaimu, aku ingin tau bahwa perasaan yang aku rasakan terhadapmu kali ini adalah sebuah perbaikan dalam kehidupanku, aku tau kamu mengetahui maksudku….. Yah Assallamualikum”.

Adnan adalah orang yang sekarang sedang mengisi ruang hampa dalam kehidupanku, aku sangat mengaguminya. Adnan seperti kehangatan dalam kehidupanku, senyumnya membuat aku begitu tenang, wajahnya membuatku mensyukuri karunia Tuhan, tapi ada satu hal yang membuat aku belum bisa menerimanya sepenuh hati, aku tidak tau kepada siapa sebenarnya hatiku berlabuh, karena sampai saat ini aku masih berselingkuh dengan dongeng-dongengku. Imajinasiku masih terus menari bersama Tuan Mudaku dan aku masih berharap mampu merangkai setiap cerita cinta bersamanya…. Yah, Adnan tau itu dan memahami maksudku, hingga dengan berat hati dia merelakanku untuk pergi. Sementara orang yang aku temui sampai saat ini belum juga menyambutku dan memberikan senyuman selamat datangnya, bahkan tak ada sedikitpun kata yang dikirimkan untuk membalas pesanku.

Makasar 15.30 Wita
Petualanganku dimulai, entah daerah mana yang akan jelajahi terlebih dahulu, aku tidak peduli nama tempat dan waktu dimana aku berdiri, yang aku pastikan adalah bagaimana aku menepati janji kepada diriku, Adnan dan pada imajinasiku sendiri. Entah kenapa napasku membawaku ke sebuah perkampungan kecil di ujung selatan Sulawesi, aku sendiri sudah tidak peduli berapa jam aku akan menghabiskan waktu sementara tujuan hidupku kemari tak juga menampakan diri, yang pasti Daeng bilang “Suatu saat setiap tindakan, kalimat akan tertafsirkan pada waktunya” , yah waktu… Bahkan kali ini aku seperti terhipnotis oleh perkataannya, entah kenapa aku seperti tak mengingat janjiku pada Adnan, kumatikan semua alat komunikasi, bahkan jam tangan yang ku kenakan ku tenggelamkan pada sungai dan khalbuku berbisik “Kali ini aku akan buktikan tafsir mana yang akan lebih dulu waktu artikan”.

Perjalanan ku disambut oleh kokohnya pegunungan karst yang nyaris membuat aku membisu, aku memejamkan mataku berusaha menyesuaikan diri dengan aroma baru kehidupan yang baru aku temui ini, yah,, mungkin saja napas yang aku rindukan selama ini tersiar diantara aliran Sungai Puthe, hingga perlahan aku seperti tertarik pada fiksiku sendiri, aku menghadirkan hujan dalam imajinerku, entah mengapa Tuhan seperti menjawabnya keinginanku. Ketenangan Puthe kini terganggu oleh rintihan air mata langit yang mulai menghujat wajahku dan Daeng bilang “Akan selalu ada kesetiaan tak kala hujan datang" Hehe… aku tertawa pada diriku sendiri entah kesetiaan apa yang dia maksud …

Entah berapa menit atau jam menyusuri sungai, yang pasti hatiku seperti sunyi tak ada seorang yang berani mengusik membiarkan aku merenung dalam nuansa ramang-ramang, hingga kemudian perahu bersandar ada tepian sungai kecil yang orang bilang merupakan pintu gerbang sekaligus sudut terindah perkampungan yang dikaruniakan Tuhan. Berua seorang pak tua menyapaku dengan hangat, matanya seperti melihat iba kearahku, entah apa yang mungkin hadir dalam pikirannya, perempuan muda dengan ransel merah yang sedari tadi hanya mempermainkan kacamata hitamnya dengan ujung baju yang sudah basah karena terhujat gerimis.

“Yah, perkenalkan… Qirla, ”

“Selamat datang di tanah para leluhur kami”

“Aku bahkan punya ikatan emosional yang lain dengan tanah ini” Jawabku, dalam hati tak sedikitpun mempedulikan perkataan bapak tua yang menyapaku hangat dan segera mengarahkanku ke rumah panggung yang terbuat dari kayu, mirip rumah tanah para Badui tapi Berua sangat sederhana dan bersahaja terkesan apa adanya.

Kesunyian udara dan ketenangan seperti memberikan sebuah sentuhan tangan yang sentuhan tangan yang sangat aku rindunkan, sentuhan tangan seseorang yang sudah mengirimkan sepucuk surat klasik yang mengaggu kehidupanku, sepucuk pengharapan kosong yang aku hidupkan dalam dunia nyataku, sepucuk surat yang membuat aku hidup diantara dua dunia…

“Daeng…” aku seperti mengenal sosok yang menyelinap pada sebuah rumah kayu, hingga tanpa aku sadari aku mengikuti sosok itu, tapi perlahan sosok itu semakin abstrak, aku bahkan tidak tau bayangan siapa yang sedang aku kejar, Adnan atau Daeng seseorang yang sudah lama menjadi kekasih dalam batinku…”

“Akh….” Aku berteriak kencang, tubuhku menggigil, air mataku mengalir deras hingga nyaris saja roboh, beruntung aku masih bisa bersender pada sebuah batang kayu penyanggah rumah.

“Sebenarnya, apa yang kau cari nak. Wajahmu Nampak pucat kami tidak bisa membiarkan kamu berada di tanah leluhur kami, antara pemikiran, raga, hati dan keinginanmu sudah tidak selaras” pak tua tadi seperti panik melihat kondisiku, aku sendiri masih berlinang air mata tak menggerti apa yang harus aku lakukan.

“Entahlah, aku mencari seseorang yang pernah mengubah hidupku pak, yang memberikan warna dalam keseharianku, yang menghadirkan dongeng-dongeng indah dan tawa, entah kenapa dia seperti menariku untuk datang kemari”

Orang tua itu tersenyum, entah apa maksud dari senyumnya dia membawaku untuk segera masuk kedalam rumahnya, memberikan ku secangkir teh hangat dan membukakan ku jendela untuk memandang tenggelamnya sang surya diantara keindahan tanah leluhur mereka. Yah. . .aku benar-benar menikmati kesunyian ini, aku menikmati kesendirianku, mereka tidak meyapaku mereka mengetahui keinginanku.

“Adnan… “ aku melihat sosoknya diantara jernihnya air sungai dan pantulan cahaya sangsurya yang akan menenggelamkan diri.

“Entah kenapa aku merindukan Adnan, apa terjadi sesuatu dengannya…?” hatiku mulai bertanya-tanya sendiri.

Aku tersenyum mengingat Adnan, pikiranku tiba-tiba menjadi tenang setenang aliran sungai ketika hujan berhenti menghujat, ternyata bapak tua tadi juga memperhatikan ekspresi perubahan diwajahku “Tidurlah, besok kau akan menemukan keajaiban lain di sini”.
Aku terdiam….

***

Aku menelusuri sebuah sungai dengan kesendirian, sepi sekali perahu berjalan mengikuti arah aliran tanpa ada yang mengendalikan, perlahan aku seperti tertidur di atas perahu, tapi itu hanya terjadi beberapa menit seorang menggengam tanganku dengan halus, aku membuka mataku, Adnan nampak duduk disampingku, senyumnya begitu indah, tangannya semakin erat menggegam tanganku, wajahnya tiba-tiba berubah memucat, ia menggigit bibirnya seperti menahan sakit lalu perlahan genggamanya melemah dan terlepas Adnan tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri… aku melihat diriku meneteskan banyak air mata .

“Bangun de, fajar sudah menyingsing bukankah hari ini kamu harus menyelesaikan tugasmu” aku tersentak ketika seseorang membangunkanku dan menyadarkan bahwa aku hanya sedang bermimpi.

Aku tersenyum, air mataku kini benar-benar jatuh, entah berapa waktu yang kuhabiskan aku sudah menyianyiakan seorang yang sedang menantiku demi sebuah keegoan orang lain..

“Aku pergi” suaraku rapuh

“Pergilah sebelum terlambat”

Pergi sebelum terlambat, aku teringat sebuah pesan yah lagi-lagi kalimat itu milik tuan muda kesayanganku, tapi kini bukan tentang aku sepertinya yang ditafsirkan waktu. Aku sendiri bahkan tidak tau apa yang sedang ingin aku tafsirkan yang pasti dalam hidupku kini ada keraguan… aku bahkan akan segera meninggalkan ramang-ramang…

“Sudah cukup lama aku jatuh cinta kepadamu, setiap memandangmu kesakitan itu hadir dalam sunyiku. Sekian lama ku coba hentikan dongeng-dongengku, tapi tokoh dalam dongeng tidak akan pernah mati. Dia akan hidup dalam setiap kurun waktu tertentu… begitu juga dengan perasaan ini. Kita terpisah tapi suatu hari dalam kurun waktu tertentu antara jarak, jasmani dan perasaan tidak akan pernah lagi terpisahkan”. Perlahan air mataku mulai menetes dengan deras, ketika sekali lagi kubaca surat terakhir yang dikirimkan daeng kepadaku, entah apa yang membuat kami terpisah jika tuhan ini ada lebih dari satu, tentu butuh cinta untuk menyatukannya… tapi kenapa cinta ku pada daeng tidak bisa menyatukan aku dengan tuhannya, dan dia dengan tuhanku.

Aku sendiri hampir tidak mengenal diriku, seolah ingin mengutuk tuhanku dan tak percaya kepada kehendaknya, selama ini yang aku tau nama keperyaan kami sama tapi ternyata wajah kepercayaan itu kami jalani berbeda itu yang membuat cincin yang dulu terikat di jarimanisku hilang entah kemana dan membuat kata cinta samar tanpa makna.

Makasar 22.00 Wita
Aku rasa waktuku sudah lebih dari dua puluh dua jam ditanah Makasar ini, sampai saat ini aku belum tau berapa hari yang aku lewati di tanah ini tapi yang pasti pesawatku adalah pesawat penutup untuk hari ini. Yah hari ini…. 22 Januari, aku ingat betul pertama kali tanganku gemetar mendapatkan surat klasik yang nyaris membuat napasku terdiam dan pada saat itu aku merasakan jatuh cinta pada tuan yang menuliskan pinsilnya dengan rapih pada kertas putih.

“22 Jam”

“Daeng” aku segera berbalik arah menuju sang pemilik suara, tapi yang berdiri dihadapanku bukan tuan melainkan Adnan , Yah… Adnan entah perasaan apa yang ada di hatiku aku gemetar melihatnya, aku ingin memeluknya aku ingin mengucap maaf kepadanya.

“Dalam kehidupan ini, banyak orang yang ingin mengejar masa lalu tapi ketahuilah kita tidak akan pernah bisa menarik waktu sesuka hati kita. Kita juga tidak bisa mendahului kehendak tuhan akan masa depan kita, belajarlah ikhlas untuk menerima kehidupanmu di masa ini” Adnan mendekat dan memeluku…Aku menangis sejadinya, aku sendiri tidak tau sebenarnya apa perasaanku biarlah tuhan yang memaknakan apa yang sebenarnya terjadi.

’’Aku memang tidak bisa menjadi tokoh dalam dunia dongeng mu, tapi aku ingin berusaha mencintai mu dan menyadarkan mu, bahwa kehidupan hanya akan terjawab maknanya oleh kita sendiri, Tuhan menciptakan kita seperti pazzel yang penuh misteri dan kita tidak bisa menyusun diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain memperbaiki kita tapi dalam sudut pandang yang lain kita sendiri yang tau kita. Aku tidak pandai merangkai kata tapi ketahuilah ini untuk kedua puluh dua kalinya aku katakan ….”

Adnan menarik napas panjang “Menikahlah dengan ku….”

Penulis adalah: Rela Mutiara Agustiansyah

Darussalam J. S

Memulai karir jurnalistik pada tahun 2003 di harian Fajar Banten (sekarang Kabar Banten, grup Pikiran Rakyat). Pernah bekerja di Global TV selama 2005-2013 dan di Info TV selama setahun. Darussalam juga pernah menerbitkan buku jurnalistik berjudul, "Korupsi Kebebasan, Kebebasan Terkorupsi". Kemudian dia mendirikan situs berita Banten Hits, 11 Februari 2013.