id

Kucinta Tanahmu

By  Agu 31, 2014 | 11:14

Engkau, bilang manusia hidup dalam dua sisi yang bertolak belakang, pertama dalam kebebasan dan kemerdekaan yang hakiki yang semua orang percaya bahwa itu adalah kodrat paling pasti. Namun disisi lain manusia terlahir dalam sebuah ikatan yang sangat mengikat, terhalang oleh kebebasan orang lain dan manusia hidup dalam ikatan alam yang hadir disekitar, manusia hidup tanpa sebuah kebebasan jika dilihat dalam mata rasionalitas seorang manusia. Akan tetapi engku juga memberi garis bahwa manusia pada dasarnya adalah kesatuan nilai keiklasan, menjadi seorang yang sesuai fitranya adalah sebuah proses panjang yang sulit untuk di dapatkan tanpa sebuah nilai ke Iklasan “Berpasrah diri wahai kemenakan ku, adat, tradisi dogma agama yang sedang mengikatmu adalah pilihan hidup yang sudah kau tentukan sejak melakukan perjanjian dengan Tuhan, tak payah lagi kau ingkari kehidupan ini. Iklas lah wahai kemenakan ku” sering kali kalimat itu mengingatkan ku dan hadir di setiap kesulitan yang kini menghantui, Iklas Engku sudah menunjukan betapa dirinya begitu iklas menerima orang lain ditengah-tengah keluarganya.

Engkau, bilang manusia hidup dalam dua sisi yang bertolak belakang, pertama dalam kebebasan dan kemerdekaan yang hakiki yang semua orang percaya bahwa itu adalah kodrat paling pasti. Namun disisi lain manusia terlahir dalam sebuah ikatan yang sangat mengikat, terhalang oleh kebebasan orang lain dan manusia hidup dalam ikatan alam yang hadir disekitar, manusia hidup tanpa sebuah kebebasan jika dilihat dalam mata rasionalitas seorang manusia. Akan tetapi engku juga memberi garis bahwa manusia pada dasarnya adalah kesatuan nilai keiklasan, menjadi seorang yang sesuai fitranya adalah sebuah proses panjang yang sulit untuk di dapatkan tanpa sebuah nilai ke Iklasan “Berpasrah diri wahai kemenakan ku, adat, tradisi dogma agama yang sedang mengikatmu adalah pilihan hidup yang sudah kau tentukan sejak melakukan perjanjian dengan Tuhan, tak payah lagi kau ingkari kehidupan ini. Iklas lah wahai kemenakan ku” sering kali kalimat itu mengingatkan ku dan hadir di setiap kesulitan yang kini menghantui, Iklas Engku sudah menunjukan betapa dirinya begitu iklas menerima orang lain ditengah-tengah keluarganya.

“Neng , naha ngalamun?” “Ibrahim” suaraku paruh“ Apa yang terjadi padamu dinda, cakap mu pendek dan tak acuh, tubuh masihlah bergeming dan tak berubah, tak senangkah kau melihat kakandamu datang dari rantau?” Ibrahim nampak bingung melihat istrinya kini nampak tak berselera hidup dan terlihat penuh rasa pilu “Kanda, lima tahun sudah dan nampaknya semua akan berakhir sia-sia, menurut adat bangsamu, dalam negeri sendiri yang memegang rumah tangga adalah sang istri, kanda hanya menjadi sumando, anak yang lahir dari pergaulan kita tidaklah masuk dalam suku ayah, tapi masuk suku ibu. Sementara aku gadis sunda tak bersuku bagaimana nanti posisi mahmud agar diterima ditengah rakyat negeri minang ini kanda?”.

“Apa yang kau katakan dinda, kau sudah diterima ditengah-tengah keluarga ku. Engku Muhammad sangat menyayangi mu dinda, dan tak ada yang mampu menggoyahkan pergaulan kita selain ketidak yakinan kita kepada adanya campur tangan Tuhan”. “Lalu apa hal maksud Datuk Zaenal menerima pinangan dari keluarga mariam, Ibrahim kau akan dinikahkan kembali dengan Mariam perempuan cantik yang akan mampu memberikan gelar Sutan padamu”. “Aku tidak akan pernah pernah menikahi perempuan lain, selain diri dinda” Ibrahim menatap Elia dengan tajam, namun tatapan matanya tak juga diterima hangat oleh Elia, perempuan yang sangat dicintainya.

Pikiran Ibraham menerawang bagaimana pertama kali dia berjumpa dengan Elia, sosok yang penuh dengan mimpi dan memiliki semangat yang sangat tinggi, senyum Elia selalu mengukir indah dalam keseharianya, keputusan menikahi Elia baginya adalah suatu kebahagian yang tidak bisa di ukur oleh apapun. Sekalipun keputusan itu mungkin akan menyakiti segala mimpi yang Elia ukir dalam kehidupanya. Ibrahim menyadari  meskipun lama dia bergaul dengan Elia, Elia tidak akan pernah jatuh dalam kekuasaan Ibrahim secara penuh, kuasa itu tetap ada pada mamaknya, Ibrahim segera menepis ikatan adat yang melintas dalam benaknya, posisi Elia jelas beda dia tak satu adat denganya .

“Kalau tak menikah dengan perempuan sebangsa dan seadat dengan dirimu Ibrahim, maka kau dianggap khianat dan menjadi anak durhaka, maka tak sudi aku memiliki suami yang durhaka. Nikahi saja perempuan bangsamu dan kembalikan aku ke bangsaku”. “Dinda, apa hal yang merasuk hati dinda sehingga berkata begitu menyakitkan, aku tidak akan pernah menikahi perempuan lain. Adat itu sudah mati terbawa jaman, dan tak akan lagi mengikat kehidupanku, aku sudah bersumpah di atas tanah tempat kau dilahirkan untuk bersatu dengan mu selamanya, tak sedikitpun niatanku untuk melepas ikatan ini bersamamu dan tolong hargai aku sebagai imammu dinda, tak panatas dinda menyebut nama kanda”. “Kalau sengsara dirantau bersama suami, perempuan bangsamu akan di jemput mamaknya, karena hak perempuan sampai manapun ada pada mamaknya, sekarang aku Ibrahim... siapa yang hendak menjemput aku ditanah rantau ini, aku sudah tak memiliki siapapun di dunia ini Ibrahim satu-satunya yang aku punya adalah engkau, tapi apalah daya ketika keadaan memaksa aku untuk mengiklaskan pula”. Elia menghentikan kalimatnya, ada beban yang teramat dalam pada setiap kalimat yang dilontarkan, matanya menatap langit sore yang dihiasi awan hitam, sedetik hujan mulai berjatuhan.

“Apa maksud dinda dengan mengiklaskan ?” Ibrahim memastikan. “Besok pernikahan itu akan dilangsungkan”. “Kau tak nampak Elia yang aku kenal, gadis sunda yang memiliki kekuatan melebihi seorang kartini, kau tidak rasional Elia. Ini bukan dirimu...” Ibrahim menjatuhkan
diri.

****

Elia nampak berdiri dimuka pintu, wajahnya benar-benar tak bercahaya. Pikirannya entah berada dimana, hatinya sakit seperti ditusuk sembilu dan dibubuhi garam, ada garis penyesalan dalam hidupnya kenapa dia berani mengambil keputusan untuk meninggalkan tanah Multauli yang sudah membesarkanya. Elia teringat pada rumah beratap genting, berdinding bilik dan beralantai papan tempat dimana dia menghabiskan masa kecil hingga remaja, tempat dimana jari-jarinya merangkai setiap kata menjadi sebuah dongeng pengantar tidur anak-anak didesanya. Elia rindu sungai kecil yang melintas di perkampungan dan menjadi tempat masyarakat menanggukan diri “Sepertinya tanah Multatuli mengutukku” bisik elia dalam hati menyesali diri pilu.

“Entahlah apa lagi yang dicari Datuk Zaenal sehingga menikahkan Ibrahim dengan Mariam, padahal Elia baik budinya, padai bergaul dan taupula dia dengan seluk beluk adat kita, rendah hati, apalah yang salah?”. “Elia bukan orang kita engku, itu saja salahnya?”. “Kanda rasa, hal tersebut sudah tidak berlaku untuk masa sekarang, dan apa yang dilakukan Datuk Zaenal adalah kesalahan yang patal dinda”. Elia tidak menyadari akan kehadiran dua orang yang sejak tadi memperbincangkanya, imajinasinya telalu asik melayang pada masa dia kecil dulu.

“Anak ku, engku sangat cemas melihat keadaan kau saat ini”. “Semalam ada pergulatan hebat Datuk Zaenal dan Ibrahim” Elia mulai membuka mulut, suaranya terdengar berat, posisi tubuhnya tetap berdiri menatap dengan penuh kehampaan “Iklas Elia” Engku Muhammad meneteskan air mata. “Aku iklas meninggalkan tanah kelahiranku, iklas meninggalkan segala kesenanganku, aku iklas mencintai tradisi, adat dan tanah dimana suamiku dibesarkan, tanah yang begitu dijunjung tinggi. Bahkan sebelum aku memutuskan untuk mengikat pergaulanku dengan Ibrahim aku sudah terlebih dahulu melebelakan diri aku bahwa aku adalah gadis minang yang harus menjungjung tradisi” Elia menghentikan perkataanya, dia menarik napas panjang. “Engku, aku hanya ingin di akui sebagai bagian dari kalian, jikalau memang menikahkan ibrahim dengan perempuan lain dapat membuat kalian yakin bahwa aku adalah bagian dari kalian, maka hal tersebut akan aku tempuh, asalkan akui aku dan anakku keluarga, bukan orang asing yang menumpang hidup ditanah parantuan ini”. “Jadi, hari ini ibrahim akan menikah anakku?” Engku muhammad memastikan.

Elia tidak menjawab, baginya menjawab pertanyaan Engku Muhammad sama dengan mulai menabur benih penyakit dalam rohaniahnya.  “Tuan...Tuan...Tuan” Seseorang berteriak kencang dan berlari panik. “Ada apa kenapa berteriak macam melihat setan saja?”

“Ibrahim meninggal dunia” Eli tersentak, tubuhnya mengigil gemetar dan terjatuh tak sadarkan diri
“Kau tak member kabar anginkan?” Engku muhammad memastikan “Tidak, tuan. Orang bilang sebelum menikahi Mariam, Ibrahim bersumpah bahwa setelah Ikrar pernikahan dia tidak akan pernah menggauli Mariam seumur hidupnya, dia bersumpah bahwa rohaniah dan jasmaniahnya hanya milik istrinya Elia, tapi tuan datuk Zaenal tetap saja memaksa menikahkan Ibrahim, begitupula dengan keluarga pihak perempuan karena tak ingin pernikahan putrinya gagal dan mencederai kehormatan keluarga, mereka tetap memaksa Ibrahim untuk menikah, tapi lima menit setelah resmi ibrahim jatuh tak sadarkan diri bahkan lepas ruh dalam raganya” laki-laki muda itu menjelaskan dengan panik. “Yasudah, sekarang kita bantu Elia terlebih dahulu, setelah itu baru kita melihat keadaan Ibrahim”.

****

Apa makna kemerdekaan yang dijanjikan Tuhan, ternyata jauh lebih besar dari hanya sekedar apa yang akal kita mampu tangkap, kemerdekaan itu datangnya di hati atas dasar kerendahan dan iklasan, atas kesadaran menerima setiap cobaan sebagai wujud kecintaan tuhan. Kebebasan itu tidak pernah mengikat, kebebasan seorang memilih cinta adalah suatu keyakinan besar yang dikaruniai oleh Tuhan. Alam membentuk sebuah adat, tradisi adalah untuk mengikat kebebasaan itu menjadi sebuah kebebasan yang lebih besar. “Begitu Sultan Mahmud, yang sering Engku Muhammad bilang”. “Mama, sangat mencintai tanah ini?”.

Elia menatap tajam mata anaknya, seperti pinang dibelah dua wajahnya begitu sama dengan Ibrahim dulu, laki-laki yang sudah membuktikan betapa setia cinta kasihnya.

“Tidurlah, tak usah mama hiraukan pertanyaanku, aku sudah tau jawabanya. Istirahat dengan tenang, mama sudah terlalu lelah bercerita...”. Elia menutup kedua kelopak matanya , tiba-tiba seorang nampak berbisik kepadanya. “Dinda, bangun kanda sudah tau betapa sangat dinda mencintai kanda ?”. Elia membuka kelopak matanya”Kanda” Ibrahim nampak tersenyum, di tanganya membawakan dua buah kain khas putri bangsawan dari tanah Minangkabau.

 


Penulis : Rela Mutiara Agustiansyah, Mahasiswi jurusan Ilmu Pemerintahan di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Setia Budhi Rangkasbitung.