id

SAKIT? 3S aja ( Sabar, berusaha, sembuh )

By  Apr 26, 2014 | 13:35

Sakit, bahkan lebih dari sakit. Bangun dari tempat tidur bukan kesegaran yang ku dapat melainkan kelemahan. Lemah karena kakiku tidak bisa digerakan lagi, lumpuh. Pagi yang cerah seharusnya aku pergi ke sekolah yang pada saat itu aku duduk di kelas 2 sekolah dasar, tapi aku malah

terbaring lemah di tempat tidur. Aku memanggil ibuku sambil menangis. Ibuku syok melihat kakikku tak bisa bangun dari tempat tidur. Ibuku panik dan segera memanggil nenekku dan memberitahukan keadaanku. Nenekku memijat-mijat kakiku, tapi tetap saja kakiku tidak bisa digerakan.


Siang harinya bapakku datang dari Jakarta karena panik dan khawatir dengan keadaanku yang tidak bisa berjalan disertai badanku panas, bapak langsung memarkirkan mobilnya dan membawaku ke RS Paramitha. Padahal, bapakku belum istirahat semalaman, tapi karena demi aku dia merelakan waktu istirahatnya. Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memasang alat-alat medis di sekujur tubuhku. Takut, ketakutanku hilang karena bapak dan nenek setia menemaniku, sedangkan ibuku di rumah saja menjaga adik bungsuku.

Sore hari kulitku menguning seperti dilumuri kunyit. Aku bertanya kepada bapak, kenapa kulitku menguning, tetapi bapak tidak mengetahuinya. Aku menangis kesakitan karena kakiku seperti ada yang mengikatnya dengan tali, aku ceritakan semua kesakitanku kepada bapak dan nenek.

“ Pak, mbu, lepasin ikatan yang ada di kaki Asti”

“ Gak ada yang ngiket” jawab nenekku sambil memegang kakiku dan sholawatan

Aku terus berteriak kesakitan karena ikatan di kakiku semakin kencang. Bapak dan nenek menangis melihat keadaanku. Bapak memanggil suster, dan suster pun memeriksa kakiku, sungguh tidak bisa meredakan sakitnya ikatan di kakiku.
Semua orang yang ada di ruangan itu pias melihat keadaanku. Tidak ada satu kata pun yang keluar selain air mata. Aku yakin bisa sembuh. Bapak saja laki-laki bringas dan super preman yang aku kenal tapi begitu melihat keadaanku berubah menjadi loyo.

Bapakku merangkulku dan membisikkan kata-kata motivasi untuk kesembuhanku dan semangatku melawan sakit.

“ Neng, pasti sembuh. Yakin sama Allah ya neng. Setiap penyakit pasti ada obatnya”. Aku tersenyum dibalik tangisan.

***
Satu minggu dirawat di RS. Paramitha tapi tidak ada perubahan apapun. Nenek memutuskan untuk melakukan pengobatan di rumah saja. Mungkin dengan perawatan di rumah jauh lebih baik. Bapak menolaknya, dan membawaku ke RS. Umum Serang. Sesampainya di rumah sakit, aku kembali dipasangi alat-alat medis, sama halnya seperti di Paramitha. Tapi kali ini aku tidak ketakutan. Sudah pengalaman.
Ketika di pindahkan ke ruang ICU aku digendong bapak karena tidak mau di dorong pakai kursi roda. Bapak menggendongku dengan semangatnya. Ketika itu aku melihat darah di baju bapak dan ternyata itu darah dari impusan di tanganku. Aku berteriak melihat darah yang mengalir di tanganku. Bapak segera berlari membawaku ke ruang ICU.

Sesampainya di ruang ICU aku ketakutan karena ada pasien kecelakaan, tulangnya terlihat begitu jelas, kulitnya melepuh dan penuh darah, ngeri. Aku pesan sama bapak supaya ibu datang ke rumah sakit karena aku butuh ibu di sampingku. Selama di rumah sakit aku hanya ditemani oleh bapak dan nenek.

“ Pak, ibu suruh ke rumah sakit ya”

“ Iya, besok ibu ke rumah sakit sama supir”

“ Ko gak sama bapak sih pak?”

“ Bapak besok ke tanah abang ngirim sayuran”

Aku pun mengangguk padahal hatiku sedih walaupun ibu bakal menemaniku. Bapakku tahu betul kesedihanku dan menanyakannya padaku mengapa aku sedih.

“ Kenapa neng ko kelihatannya sedih?”

“ Gak ko, pak”

“ Neng, kalau bapak gak ngirim sayuran nanti bayar pengobatan di rumah sakitnya gimana?”

Aku tersenyum. Hatiku sedih melihat bapak harus membagi waktunya pulang pergi Serang-Jakarta dengan istirahat yang kurang. Khawatir dengan kondisi kesehatannya.

***
Keesokan harinya ibuku datang dengan menggendong adikku. Ibuku langsung meneteskan air mata dan menangis dengan deras. Aku tidak tega melihat orang-orang yang aku sayang menangis karena aku. Aku menatap ibuku dan adikku, aku membayangkan jika aku pergi duluan meninggalkan mereka. Air mata pun sulit ku bendung.

“ Neng harus sembuh ya, Ibu, Bapak, Aa, Dede sayang sama neng” kata-kata ibuku yang terlontar dibibirnya sambil menangis dan bergetar.

“ Iya, bu. Udah atuh jangan nangis aja. Neng masih kuat ko bu”

Ibuku terus memelukku dengan erat dan menangis tiada henti. Semakin ibuku menangis semakin membuatku semangat untuk sembuh supaya bisa mengganti air matanya dengan senyuman. Ketika sore tiba banyak keluarga yang datang ke rumah sakit, mereka datang untuk menjengukku dan mereka malah menangis. Mungkin karena keadaanku yang sangat memperihatinkan. Malam hari bapak pun datang, aku senang sekali karena Allah masih memberikan kesempatan padaku untuk berkumpul dengan keluargaku secara lengkap.

Ibuku sepertinya lemas karena tidak makan semenjak di rumah sakit, karena yang ia pikirkan hanya keadaanku. Apalagi bapakku tidak memikirkan apapun kecuali keadaanku. Uwa menyuruh bapak untuk membawaku berobat ke RS. Cipto, Jakarta. Tanpa berpikir panjang bapak langsung memesan ambulance dan membawaku kesana. Nyaris tidak terbayangkan, karena sesampainya disana ternyata dokternya tidak sanggup merawatku karena sakitku yang parah. Aku dibawa kembali ke RS. Umum Serang.

Malam semakin larut bahkan menjelang pagi aku sampai kembali di RS. Umum Serang. Sesampainya di rumah sakit, ada amang Jafi. Dia adalah supir pribadinya bapak. Aku senang bisa digendong olehnya hingga ke ruang ICU. Di ruang ICU aku tidak diperbolehkan makan bahkan minum, aku hanya di infus saja. Aku kehausan dan akhirnya amang Jafi memberikanku minum dengan sendok secara diam-diam supaya tidak ketahuan dokter.

“ Asti harus sembuh ya, nanti kalau sembuh amang ajak jalan-jalan keliling Jakarta”

“ Yang bener, amang? Hore,, hore” aku girang tidak karuan, maklum lah usiaku pada saat itu baru 7 tahun.

Amang Jafi mengangguk dan terus menyanyikan lagu-lagu anak kecil seperti balonku, dll. Sumpah aku terhibur banget. Sakit yang kurasa pun sedikit terasa hilang.

***
Satu minggu di rawat di RS. Umum Serang tetapi tidak ada perubahan apapun. Kakiku semakin mengecil, bahkan tinggal kulit dan tulang saja. Kemudian aku dibawa ke seorang tabib di Rangkasbitung, itu pun hasil usulan dari Bibi Nur. Setelah sampai, kakiku di tarik-tarik seperti benang. Sakitnya pun super. Aku menangis dan teriak kesakitan. Ibuku menangis dan meraih tangan tabib karena tidak tega melihatku kesakitan.

Setelah selesai di tarik-tarik, aku diberikan minum air hangat dan kompresan dari singkong mekah. Badanku lumayan rileks tapi kakinya semakin sakit. Aku di gendong dan di suapin biskuit sama Uwa, aku benar-benar seperti bayi, menyedihkan. Keadaanku semakin memburuk di tabib itu, keluargaku memutuskan untuk membawaku pulang ke rumah dan melakukan pengobatan tradisonal di kampung. Aku tidak mau pulang ke rumah yang di Serang. Aku takut, setiap malam didalam mimpiku rumah itu seram dan menakutkan. Aku meminta kepada bapak untuk membawaku ke rumah nenekku di Tangerang. Akhirnya keluargaku pun merestuinya dan menuruti keinginanku.

***
Sesampainya di Tangerang tepatnya di rumah nenekku. Tiba-tiba di depan rumahnya ada Kiyai di delman. Kiyai itu melihat kearahku sambil tersenyum. Anehnya tidak ada yang bisa melihat kiyai itu selain aku.

“ Pak, ada kiyai itu di depannya” kataku pada bapak

“ Mana neng? Engga ada”

Semua keluargaku pada menggelengkan kepala. Mungkin karena aku sakit jadi penglihatanku aneh. Tapi aku yakin itu benar. Jam 3 sore bibi Enah dari Serang datang menjenguk, bibi membawa kabar buruk bahwa di rumahku semalam ada bola api dari atas rumah. Aneh, aku tidak mengerti apa maksud dari bola api itu.

“ Ka, semalam di rumah ada bola api di atas rumahnya” kata Bibi kepada bapak

“ Dimana, Nah?”

“ Diatas rumah, terus jatuh ke pohon jeruk yang di depan rumah. Sampai kering pohon jeruknya geh, ka”

“ Astagfirullah” semua orang yang ada di ruangan itu serentak mengucapkannya.

Aku merinding dan ketakutan mendengar cerita itu. Entah itu benar atau tidak. Tapi mana mungkin bibiku berbohong. Serahkan saja semuanya sama Allah.

***
Satu minggu di rumah nenek, banyak keluarga dari Labuan, Serang, Bogor yang berdatangan. Mereka selalu mengatakan kepada Bapak bahwa penyakitku tidak akan sembuh. Aku selalu meyakinkan mereka kalau aku bisa sembuh dan bisa berjalan normal lagi, percayalah. Tabib, kiyai sering didatangi , tapi tetap saja keadaanku tidak membaik. Bapak memutuskan untuk membawaku pulang ke rumah yang di Serang. Awalnya aku menolak tapi akhirnya aku menurutinya.

Sampai di depan rumah. Rumahnya aneh seperti rumah hantu. Mungkin karena sudah lama tidak di huni. Semua keluarga membantu bersih-bersih di rumah, sedangkan aku duduk di pangkuan Bapak. Bapak selalu setia menemani, dan itu menjadi sumber kekuatanku untuk sembuh.
 
***
Satu minggu di rumah, tetanggaku membawa seorang Tabib perempuan dari Tangsel. Pertama datang, Tabib itu mengetahui kalau kakiku di ikat sama tali hitam. Menurutnya tali itu baru sampai pinggangku jadi aku masih memiliki kesempatan untuk sembuh kembali.
Tabib itu melepas tali misterius itu, dan kakiku mulai bisa digerakan perlahan. Aku pun bisa duduk walaupun baru sedikit-sedikit.

Setelah beberapa hari aku dirawat olehnya, tiba-tiba Tabib itu tidak datang lagi ke rumahku, padahal kondisiku belum normal. Ibuku dan tetanggaku pergi ke rumah Tabib tersebut. Tapi hasilnya percuma. Tabib itu menghilang dari rumahnya. Setelah Ibu menceritakan kepada bapak kalau Tabib itu menghilang. Bapak langsung menelpon Tabib itu. Aku masih ingat isi perbincangan itu karena di H-free.

“ Bu, ada dimana? Kenapa tidak ke rumah?”

“ Maaf, Pak. Saya sudah tidak sanggup merawat anak bapak”

“ Kenapa, Bu?”

“ Saya harus berhubungan dengan bangsa lain. Kemarin ayam saya pada mati semua. Setiap saya masak pasti masakannya gagal mulu”

“ Apa hubungannya dengan anak saya, Bu?”

“ Kalau saya menyembuhkan anak Bapak, saya bakalan mati juga Pak” Tiba-tiba telpon itu mati. Bapak langsung meraihku dan memelukku dengan erat. Bapak terus meyakiniku bahwa sakitku pasti sembuh.

“ Sabar ya, neng. Pasti sembuh ko, bapak bakalan terus berusaha mencari jalan buat kesembuhanmu. Ingat, bahwa Allah itu tidak pernah tidur. Kita harus terus berusaha dan berdo’a” bisikin bapak kepadaku.

***
Pada bulan puasa Ramadhan tahun 2003, Bapak pergi sholat tarawih di masjid. Bapak membawa segelas air putih. Air itu sudah dibacakan Yasiin sama Bapak. Setelah minum air itu, Teteh Nia kerasukan. Dia kerasukan hantu dari Cirebon. Dalam kerasukannya itu, menyuruh bapak ziarah ke makam Uyut (neneknya bapak) selama 7 jum’at. Setelah melakukan ziarah selama 7 jum’at,  Alhamdulillah kakiku mulai bisa bergerak lagi secara perlahan dan  kembali normal. Delapan bulan lumpuh akhirnya sembuh. Subhanallah, Allahu Akbar.
 

Penulis: Astini Uyun. Mahasiswi jurusan Diksatrasiada STKIP Seti Budhi Rangkasbitung.

Ananda Deni

Memutuskan pilihan hidup sebagai jurnalis setelah masa-masa kuliahnya dulu dihabiskan dalam dunia pergerakan kampus. Pernah aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan dan bergabung dengan situs berita Banten Hits pada 2013.