id

Gerakan Literasi Azmi "Daud"; Menyejajarkan Stigma Tionghoa Indonesia

By  Jan 20, 2017 | 19:26
Azmi alias Daud, pemilik Museum Pustaka Tionghoa Peranakan. (Bantenhits / Yogi Triandono / Muhammad Wildan)

Sekilas tidak ada yang berbeda dari ruko bernomor C 28/25, Golden Road, CBD BSD, Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) ini.

Yang membedakan ruko tersebut dengan ruko lainnya hanyalah sebuah plang sekira 2,5 x 1 meter yang terpasang di dinding luar atas ruko. "Museum Pustaka Tionghoa Peranakan", begitulah tulisan pada plang dengan warna dasar merah bermotif khas Tionghoa ini.

Memasuki Museum Pustaka Tionghoa Peranakan, segera saja mata akan tertuju kepada deretan literatur tua tentang Tionghoa dari berbagai negara dengan tahun terbitan beragam, mulai dari tahun terbitan 1700.

Yang menarik dari Museum Pustaka Tionghoa Peranakan bukan hanya literatur kuno di dalamnya, melainkan juga sosok Azmi alias Daud (44), pemilik museum ini. Pria lulusan teknik sipil Institut Teknologi Indonesia ini sama sekali tak memiliki keturunan Tionghoa. Dia muslim asal Aceh.       

Museum Pustaka Tionghoa Peranakan ini didirikan Daud pada 7 Januari 2016. Berawal dari hobinya membaca buku, pengusaha buku bekas, buku langka, dan mie aceh ini mengumpulkan berbagai macam buku, mulai dari buku bekas santai hingga buku-buku langka yang memiliki nilai jual tinggi. 

Karena banyak buku-buku berharga yang tidak ingin dijual, Azmi kemudian berinisiatif membuat Museum Pustaka Tionghoa Peranakan, agar literatur tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa harus menjualnya.

"Museum ini merupakan bagian dari literatur langka yang saya kumpulkan, karena jika dijual susah lagi mencarinya. Namun saya ingin literatur tersebut dapat diakses masyarakat banyak, maka terciptalah museum ini," kata Azmi dalam perbincangan dengan wartawan Banten Hits/BTV Yogi Triandono dan juru kamera Muhammad Wildan, Kamis (19/1/2017). 

 

Azmi menambahkan, alasan dia memilih berbagai literatur Tionghoa peranakan untuk dimuseumkan, salah satunya karena sulitnya mendapatkan literatur terkait etnis Tionghoa. Dengan mengoleksi berbagai macam literatur Tionghoa Peranakan, ayah empat anak ini berharap masyarakat dapat mengetahui bagaimana andil Tionghoa terhadap Ibu Pertiwi.

"Seperti sejarah tentang Tionghoa peranakan di negara kita atau sebelum negara kita berdiri itu luar bisa, tetapi mengapa banyak dari kita tidak mengetahuinya," jelas Azmi.

"Ternyata literatur peranakan Tionghoa itu sangat banyak di Indonesia. Ini merupakan harta kekayaan bangsa yang perlu digali," sambungnya.

Azmi menjelaskan, di antara naskah-naskah tua miliknya, terdapat aksara mandarin yang sempat dilarang di Indonesia. Aksara ini bukan berarti tidak dapat digali sepenuhnya, karena terbukti, kekayaan ini dilirik peniliti-peneliti mancanegara untuk digali sumber pengetahuannya.

"Yang berkunjung ke sini untuk melakukan riset sudah cukup banyak, mulai dari Kanada, Prancis, Belanda, bahkan peneliti Cina pun datang ke sini," terangnya.

Lebih jauh, Azmi memiliki harapan masyarakat Indonesia bisa memberikan stigma yang sejajar terhadap etnis Tionghoa dengan etnis-etnis lainnya di Indonesia. Azmi mengakui, hingga saat ini sebagian masyarakat masih memberi stempel etnis Tionghoa sebagai pendatang di negeri ini.

"Sudah saatnya mereka berdiri sejajar dengan kita sebagai bagian dari bangsa ini karena jasa mereka tidak kalah dengan semua etnis di Indonesia," ucapnya.

Jika Anda berkunjung ke museum ini dan berkesempatan bertemu dengan Azmi, pria ini dengan senang hati akan mengajak Anda untuk menggali berbagai macam informasi, tidak hanya terkait etnis Tionghoa, tetapi juga ilmu lainnya, seperti sejarah, atau budaya-budaya di Indonesia.

Nah, bagi Anda yang penasaran dengan sosok Azmi 'Daud' atau ingin tahu lebih jauh soal Museum Pustaka Tionghoa Peranakan, bisa langsung datang ke museum ini. Anda juga bisa mengunjungi toko buku bekas milik Azmi yang berada persis di depan Museum Pustaka Tionghoa Peranakan.(Rus)

Yogi Triandono

Pria asal Teluk Naga, Kabupaten Tangerang ini memulai karir jurnalistik di Banten Hits. Dia menekuni dunia jurnalistik sesuai disiplin ilmu yang diperoleh semasa kuliah di Universitas Budi Luhur. Yogi juga memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap dunia seni dan sastra.