id

Watu Gilang; Simbol Kekuasaan Raja dan Kehancurannya

By  Nov 22, 2015 | 11:23
Watu Gilang atau Palangka Sriman Sriwacana yang direbut dan dipindahkan oleh pasukan Kesultanan Banten dari Kerajaan Pajajaran ke Keraton Surosowan Banten. (FOTO: wikipedia.org/bogorheritage.com)

Watu Gigilang atau Watu Gilang adalah sebuah batu andesit berbentuk persegi panjang, yang dulu dijadikan tempat pengambilan sumpah para sultan atau penobatan raja-raja Banten. Batu ini masih bisa ditemui di Komplek Surosowan Banten, lokasinya berada di sebelah timur laut meriam Ki Amuk. 

Ada dua versi tentang asal muasal Watu Gilang. Pertama, dalam Babad Banten seperti dikutip Claude Guillot dalam Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII yang dijadikan oleh kami sebagai sumber tulisan ini. Disebutkan Guillot, saat Maulana Hasanudin berhasil menaklukkan Banten Girang pada 1526, Sunan Gunung Jati memerintahkan Hasanudin mendirikan kota baru di tepi laut. 

Di tempat yang ditunjukkan Sunan Gunung Jati ini, ada seorang sedang bertapa di atas batu berbentuk persegi panjang yang dikemudian hari batu ini disebut Watu Gilang. Si pertapa adalah seorang resi bernama Betara Guru Jampang. Disebutkan, sang resi bertapa dengan khusuk dan dalam tempo yang lama, sampai-sampai tutup kepalanya dijadikan sarang burung.

Setelah kemenangan Maulana Hasanudin dalam perang melawan non-Islam, Betara Guru Jampang kemudian masuk Islam lalu menghilang. Sunan Gunung Jati memeringatkan anaknya untuk tidak memindahkan Watu Gilang dengan alasan apapun, karena jika pesan itu tidak dihiraukan maka kerajaan akan mengalami kehancuran. Begitulah, Watu Gilang itu kemudian menjadi takhta Maulana Hasanudin dan penerusnya.

Versi kedua di laman wikipedia.org menyebutkan, saat Kerajaan Pajajaran hancur akibat serangan Kesultanan Banten di pengujung 1526, kerajaan Sunda ini resmi berakhir, terlebih saat itu batu tempat penobatan calon raja Sunda telah dirampas dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan Banten oleh Maulana Yusuf, anak Maulana Hasanudin.

Batu bernama Palangka Sriman Sriwacana atau Watu Gilang ini diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak dimungkinkan lagi penobatan raja baru. Maulana Yusuf mengklaim sebagai penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja, raja Kerajaan Sunda. 

Menilik dari waktu penaklukan Banten Girang dan Kerajaan Pajajaran yang sama-sama terjadi tahun 1526, bisa jadi dua cerita tentang Watu Gilang ini merupakan satu rangkaian. Mengingat Banten Girang yang dulu di bawah penguasaan Kerajaan Pajajaran berhasil dikuasai Kesultanan Banten setelah Ki Jongjo, salah satu petingginya masuk Islam dan bergabung dengan Maulana Hasanudin. 

Dijelaskan Guillot, batu sejenis Watu Gilang sebetulnya sudah digunakan juga dalam tradisi kerajaan-kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta dengan sebutan Sela Gilang. Dalam bahasa Jawa, sela adalah padanan kromo dari watu.

Sela Gilang di Surakarta, dianggap sebagai takhta kuno Kerajaan Majapahit. Saat diadakan pemindahan ibu kota Majapahit dari Kartasura ke Surakarta tahun 1746, benda satu-satunya yang dibawa adalah Sela Gilang dan Bangsal Pangrawit yang merupakan penutupnya.

Di situs tertua Keraton Mataram, yakni Keraton Panembahan Senopati, Sela Gilang ditempatkan di sebelah pohon beringin. Sebenarnya, di sejumlah daerah lainnya di Indonesia, dalam sistem kepercayaan ini, Watu Gilang memang selalu disertai dengan dua unsur lainnya, yakni pusat kota dan pohon beringin.

Di atas Watu Gilang ini, Maulana Hasanudin menggantikan Betara Guru Jampang dan juga bertapa. Batu ini juga dijadikan sebagai singgasananya. Fakta-fakta itu seolah menyebutkan, batu tersebut telah memberikan kekuasaan untuk memerintah. Sementara, istana hanyalah bersifat fungsional saja.

Seiring waktu, peran Watu Gilang ini tak lagi dominan. Tercatat di masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1596, raja bersama dengan para penasihatnya mengambil keputusan di Darpragi, yang lokasinya berada tak jauh dari Watu Gilang. Bahkan, ciri keagamaan dan pentingnya Watu Gilang sedikit demi sedikit pudar digantikan sikap politik pragmatis. Watu Gilang pun kemudian hanya menjadi suatu lambang dan kenangan masa lalu...

Darussalam J. S

Memulai karir jurnalistik pada tahun 2003 di harian Fajar Banten (sekarang Kabar Banten, grup Pikiran Rakyat). Pernah bekerja di Global TV selama 2005-2013 dan di Info TV selama setahun. Darussalam juga pernah menerbitkan buku jurnalistik berjudul, "Korupsi Kebebasan, Kebebasan Terkorupsi". Kemudian dia mendirikan situs berita Banten Hits, 11 Februari 2013.