id

Negeri Seribu Curug, di Balik Pesona Lebak yang Tersembunyi

By  Nov 27, 2016 | 16:41
(Dok. Dian Wahyudi)

Jika disebutkan kata Baduy di perkampungan Adat Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar atau Pantai Sawarna, di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak Provinsi Banten, mungkin ada banyak wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang mengetahui dan pernah menemukan keindahan alamnya serta kultur budaya masyarakatnya yang ramah.

Destinasi wisata tersebut memang menjadi ikon yang telah lama diekspos dan menjadi primadona wisata Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten, terutama acara Seba Baduy. Seba merupakan waktu dimana masyarakat Baduy Dalam dengan berpakaian putih-putih dan Baduy Penamping (luar) berpakaian hitam-hitam sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen hasil bumi dan diberikannya kehidupan yang lebih baik.

Selain itu, merupakan bentuk silaturahmi masyarakat Baduy dengan kepala daerah, dalam hal ini bupati dan gubernur sebagai 'Bapak Gede', telah menjadi agenda wisata tahunan. Tapi. jika disebutkan di Lebak terdapat pula destinasi wisata eksotik lainnya yang cukup menarik, salah satunya banyaknya air terjun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Curug oleh warga lokal bisa menjadi alternatif wisata baru.


Pesona Tersembunyi

Terdapat cukup banyak destinasi wisata Curug di Lebak, namun baru sedikit yang telah dikenal maupun dikunjungi oleh para traveler (wisatawan). Curug yang relatif sering disebut dan sudah dikelola oleh pemerintah desa setempat di Lebak salah satunya Curug Munding. Curug Mundung merupakan salah satu dari sekian air terjun dengan kisah yang unik, konon menurut cerita rakyat yang tersebar, pernah ada munding (kerbau) yang loncat dari atas curug. Sejak itulah curug yang berada di Desa Cicaringin, Kecamatan Gunungkencana tersebut dikenal dengan Curug Munding.

Diakhir pekan atau hari libur, banyak pengunjung yang datang untuk menikmati indahnya Curug Munding, termasuk untuk melepas penat. Penulis pernah mengunjungi curug ini, lokasinya relatif dekat dengan perkampungan penduduk dan persawahan yang asri, ditambah dengan curahan air terjun yang lebar membuat pengunjung betah berlama-lama berendam di bawah curahan air yang telah membentuk kolam sungai yang cukup luas. Relatif aman meski pengunjung membawa anak-anak ke lokasi tersebut. Jalan setapak yang tidak jauh dengan lokasi parkir kendaraan dengan kondisi jalan paving blok, serta tersedian pula tempat ganti pakaian sederhana bagi pengunjung.

Selain Curung Munding, ada lagi Curug Kanteh yang terletak di wilayah Desa Cikatomas, Kecamatan Cilograng. Berjarak sekitar 149 kilometer dari pusat Kota Rangkasbitung, atau sekitar 4 jam waktu tempuh. Traveler yang akan mengunjungi Curug Kanteh bisa melalui jalur Cihideung atau lewat Naga Jaya. Terdapat pula sedikitnya empat curug kecil di sepanjang perjalanan, melewati bebatuan besar yang lumayan licin, semakin membuat perjalanan semakin menantang. Ada juga Curug Cipicung, di Desa Sukaresmi dan tepat berada di kawasan Gunung Cipicung, Kecamatan Sobang.

Bersama Lebak Adventure Club (LAC), penulis pernah merasakan medan yang cukup menantang. Hanya butuh 45 menit untuk sampai ke curug tersebut. Traveler akan benar-benar dimanjakan dengan suasana alami dengan beberapa sungai berbatu yang eksotik. Curug ini penulis rekomendasikan dapat membawa keluarga tercinta untuk ikut serta menikmati panorama alamnya yang mempesona. Saat penulis mendatangi curug ini pun membawa anak yang masih berusia 7 tahun yang membuatnya ceria dan bersemangat. Ditambah lagi dengan area persawahan yang asri dengan sebuah saung yang merupakan tempat pembuatan gula beureum (gula aren) tradisional. Semakin seru, menikmati air rebusan aren sebelum mengental dan akhirnya menjadi gula atau 'cai lahang'.

Di samping tiga curug yang telah disebutkan tadi, masih banyak curug lainnya yang belum 'terjamah' oleh para traveler maupun backpacker. Sehingga, jika diurut satu per satu tidaklah berlebihan jika Lebak menjadi daerah dengan wisata Seribu Curug Eksotis. Ini beberapa curug yang bisa anda nikmati keindahannya:
 
1. Curug Ciporolak, berada di Desa Hegarmanah atau Lebakpicung, Kecamatan Cibeber.
2. Curug Kebo, di Desa Sumberwaras, Kecamatan Malingping. Meski ketinggian Curug Kebo hanya berkisar antara 5-7 meter, curug ini mempunyai daya tarik tersendiri.
3. Curug Kumpay, di Kampung Kumpay, Kecamatan Sajira yang sarat dengan cerita mistisnya.
4. Curug Cihear, yang lebih dikenal oleh warga setempat dengan istilah Gunung Leutik. Curug Cihear masuk dalam kawasan Gunung Halimun Salak, berada diantara Desa Cigobang dan Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebak Gedong. Jarak tempuh yang harus dilalui dari Desa Cigobang menuju curug sekitar 1 jam perjalanan kaki.
5. Curug Dengdeng, curug mempesona ini berada di Kampung Cihagaru, Desa Kadujajar, Kecamatan Malingping. Kondisi jalan menuju ke curug setinggi 25 meter ini memang masih cukup sulit untuk dilalui. Namun, terdapat pula tiga curug lain yang saling berdekatan yaitu Curug Rame, Curug Samad, Curug Golosor. Curug ini sudah mulai ditata secara baik oleh pemerintah desa setempat.
6. Curug Sata, di Kecamatan Gunung Kencana.
7. Curug Cimayang, di Desa Cimayang, Kecamatan Bojong Manik. Untuk menuju ke curug ini hanya membutuhkan waktu 2 jam dari Kota Rangkasbitung menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Setibanya di perkampungan warga, anda akan disuguhkan dengan area persawahan dengan keramahan penduduknya.
8. Curug Ngebul, di kampung Kumpay, Kecamatan Sajira.
9. Curug Cibangkit, di Desa Majasari, Kecamatan Sobang.
10. Curug Cijambu, di kampung Cikeris, Desa Jayapura, Kecamatan Cipanas.

Bersama LAC Lebak, penulis pun pernah mengunjungi curug ini. Lokasinya relatif dekat dengan perkampungan dan irigasi warga. Melewati persawahan dan sungai berbatu dengan aliran airnya yang cukup deras. Penulis menyarankan agar wisatawan menggunakan sendal khusus agar saat menginjak bebatuan yang licin tetap aman dan nyaman.

Masih terdapat pula dua curug lain yang berdekatan, yaitu Curug Ciadam dan Curug Nikel dan masih banyak lagi potensi wisata air terjun lainnya, seperti Curug Karimuay, berjarak 45 menit dari Kampung Cikawah, Desa Sobang. Menuju curug ini, traveler akan melewati lebatnya pohon Meranti, terdapat pula wisata kawah air panas yang belum tergali di kampung tersebut. Lalu Curug Sumpel, Curug Ecak-ecak atau Curug Tujuh yang masuk ke dalam wewengkon Kasepuhan Citorek, Kecamatan Cibeber yang semuanya berada dalam kawasan konservasi.

Penulis berharap, dilakukan pembenahan terhadap destinasi wisata nan indah tersebut. Misalnya saja, akses yang masih alami dengan tertutup rimbunan hutan, kurangnya ekspos dari pemerintah setempat, serta masih banyak ditemui kurangnya minat anak-anak sekolah, khususnya tingkat SLTA dan mahasiswa untuk mengeksplor potensi wisata di wilayahnya. Namun, penulis optimis banyaknya potensi ini merupakan peluang untuk meningkatkan sumber daya ekonomi untuk masyarakat sekitar, khususnya dari destinasi wisata alam. Apalagi jika pemerintah desa dan masyarakat ikut dilibatkan dalam pengelolaannya. Misalnya, membuat ground perkemahan untuk lokasi tanah yang cukup luas atau Saung Sinergi sebagai tempat mempromosikan produk unggulan Lebak, baik berupa kerajinan lokal maupun buah-buahan.

Apalagi, Kabupaten Lebak saat ini telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) inisiatif DPRD Lebak berupa Perda Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Kabupaten Lebak 2015 - 2030 serta Perda Penyelenggaraan Kepariwisataan. Semoga, potensi wisata di Kabupaten Lebak akan lebih tertata dan dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar, dengan catatan tidak melupakan keterlibatan masyarakat lokal untuk menata, mengelola dan melestarikan alam melalui Ekowisata berkelanjutan.

Pamungkas, mari lestarikan alam untuk kita wariskan ke anak cucu kita di masa depan. Penulis teringat dengan tulisan pada emblem para Pendaki maupun pecinta alam yakni "Leave no TRACE": Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu.

Penulis adalah: Dian Wahyudi, anggota DPRD Lebak Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Ayoo Berlangganan Berita Kami