id

Relawan Politik : Altruisme atau Investasi ?

By  Nov 06, 2016 | 13:35
Agus Sutisna. (Facebook/ Agus Sutisna)

Salah satu fenomena menarik dalam kontestasi Pilgub 2017, dimanapun (bukan hanya di Banten) adalah kehadiran para relawan politik yang semakin masif, meluas dan menghunjam hingga ke akar rumput. Mereka hadir mengisi ruang kosong interaksi konstruktif antara warga dengan kekuasaan yang tidak terfasilitasi secara efektif oleh partai politik yang semakin oligarkis. Mereka bergerak menghadirkan dan mendorong pilihan-pilihan alternatif kebijakan termasuk mendorong atau menawarkan figur-figur kepemimpinan yang dianggap ideal, yang abai ditawarkan oleh partai politik.

Para ahli pada umumnya mengapresiasi kehadiran para relawan politik ini sebagai sebuah fenomena positif di era demokratisasi, khususnya dalam lanskap perhelatan demokrasi elektoral (pemilu maupun pilkada). Ada beberapa alasan mengapa kehadiran relawan-relawan politik dinilai positif.

Pertama, kehadiran relawan mengindikasikan adanya perluasan partisipasi politik masyarakat di tengah arus dominasi oligarki partai-partai politik dalam menyiapkan para calon pemimpin. Gejala ini bisa menjadi titik awal yang sangat penting untuk mengembangkan dan memperkuat demokrasi partisipatoris, dimana keberadaan dan peran-peran publik bisa mengimbangi dominasi para elit di tubuh partai yang cenderung egois dan “buta-tuli” terhadap aspirasi warga.

Kedua, kehadiran relawan mengisyaratkan semakin meningkatnya political literacy (kemelekan politik) warga sedemikian rupa, sehingga mereka faham bahwa urusan-urusan publik tidak selalu dapat dipercayakan kepada partai politik. Karena itu warga harus bergerak menghadirkan berbagai alternasi kebijakan, termasuk ikut “menyiapkan” calon-calon pemimpin yang dapat melahirkan model kepemimpinan transformatif.

Ketiga, sesuai dengan sebutannya, kehadiran para relawan ini menjadi semacam “oase” di tengah arus deras gejala materialistik, transaksional, dan kerja-kerja politik serba pamrih yang menggersangkan kehidupan politik selama ini. Karena prinsip kehadiran dan kerja para relawan yang volunteer (sukarela), tanpa mengharapkan imbalan atau keuntungan-keuntungan materil, self-help (mandiri), bahkan cenderung altruistik. Semua dilakukan dengan dasar tulus-ikhlas, semata-mata untuk memberi kontribusi nyata pada perubahan-perubahan berarti bagi masyarakat.

Setidaknya, demikianlah penjelasan teoritis yang dikemukakan para ahli dan harapan-harapan ideal para pengusung ajaran politik bermoral, berintegritas dan transformatif. Dalam praksisnya di lapangan pertarungan pemilu maupun pemilukada, gambaran ideal para relawan itu tentu saja bisa berbeda. Selalu ada distorsi dari setiap gagasan ideal, konsep-konsep bagus, serta janji dan harapan-harapan yang ditawarkan oleh gagasan dan konsep sehebat dan semulia apapun.


Tipologi Relawan

Sebuah hasil riset yang membedah fenomena kehadiran relawan pada Pilpres 2014 silam (Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti, 2014, Berpolitik Tanpa Partai, Fenomena Relawan Dalam Pilpres), menjelaskan bahwa tidak semua relawan memiliki motivasi dan visi yang sama. Di luar para relawan yang sungguh-sungguh volunteer, bekerja tanpa pamrih, self-help, yang bekerja tulus semata-mata untuk memperbaiki keadaan, terdapat tiga tipe relawan yang penting dicermati (dan diwaspadai tentu saja) sebagai bahan pembelajaran bersama dalam memaknai kehadiran relawan pada Pilgub Banten 2017 ini.

Pertama, tipe Relawan Narsis. Mereka adalah para relawan yang sekedar mencari popularitas. Dalam konteks Pilpres 2014 silam, perilaku mereka ditandai dengan semangatnya menyebar spanduk dukungan untuk Jokowi yang disertai dengan foto dirinya sendiri. Biasanya para relawan tipologi ini memiliki agenda setting sendiri untuk masa depannya : pencalonan pada pemilu legislatif, pilkades, atau mungkin sekedar “nebeng” ikut populer saja. Faktanya tidak sedikit orang yang bahagia dengan menjadi populer.

Kedua, tipe Relawan Rente. Ini adalah tipe relawan yang fokus aktifitasnya adalah merancang dan membuat berbagai kegiatan dukungan terhadap calon (pada Pilpres 2014 tentu dukungan terhadap Jokowi), dengan target memperoleh keuntungan materil dari kegiatannya. Tipe relawan ini biasanya menjadi event organizer berbagai acara publik dalam rangka memobilisasi dukungan bagi calon. Mereka membuat dan mengedarkan proposal, memburu sponsorship, dan tentu saja sambil berharap di akhir acara mendapatkan laba material.

Ketiga, tipe Relawan Fans Club. Pada Piplres 2014 lalu mereka pada umumnya anak-anak muda dan artis pendukung Jokowi yang tingkat melek politiknya masih rendah, lalu dimobilisasi atau memobilisasi diri secara irrasional, yang aktivitasnya kemudian hanya memuji-muji apapun yang dilakukan Jokowi, dan marah-marah jika ada yang memojokkan Jokowi.


Relawan Investor

Selain ketiga tipe relawan tersebut, saya melihat ada satu tipe lagi yang perlu dicermati, yakni Relawan Investor. Makna hakikatnya sebetulnya tidak terlalu jauh dengan tipe kedua diatas, Relawan Rente. Bekerja sebagai dan menyebut diri/kelompoknya dengan sebutan relawan tetapi dengan pamrih berjangka pendek : memperoleh keuntungan materil. Maka sebutan yang pantas bagi tipe ini memang event organizer saja, EO pernikahan atau sunatan massal.

Bedanya adalah Relawan Investor itu bekerja dengan target tertentu yang jauh lebih besar dan berjangka panjang; berani memodali, bahkan membandari sendiri kegiatan dukungannya terhadap calon itu dengan uang atau logistiknya sendiri. Alih-alih merancang, menawarkan gagasan-gagasan cerdas dan ikhlas, berpikir dan berkomitmen untuk kepentingan publik, tipe relawan ini biasanya memiliki sejumlah agenda setting (terutama ekonomi-politik) pasca pemilu/pilkada yang diproyeksikan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Tipe relawan inilah yang di kemudian hari potensial menjadi barisan shadow state atau shadow government yang bakal mengganggu cagub-cawagub terpilih dalam menjalankan pemerintahan kelak. Mereka bisa menjadi “kerikil” dalam sepatu Gubernur-Wagub terpilih. Makanya, pasangan calon manapun, perlu hati-hati.

Penulis adalah Agus Sutisna, Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT)

Ayoo Berlangganan Berita Kami