id

Rano-Mulya: Spirit Anti-Mainstream, Sinyal Perubahan

By  Sep 23, 2016 | 10:12
Agus Sutisna. (Dok. Agus Sutisna)

Setelah tarik-menarik kencang berlangsung di “kandang banteng”, berbagai spekulasi kemudian saling berseliweran, Rabu siang atau sore kemarin (21/9/2016) PDIP dan partai koalisinya akhirnya menetapkan Embay Mulya Syarief (EMS) sebagai bakal pendamping Rano Karno dalam perhelatan Pilgub 2017. Figur yang bahkan nyaris tidak pernah disebut namanya, apalagi diperhitungkan dalam konstelasi dinamis proses kandidasi sebelumnya. Banyak orang kaget dan mungkin saja menolak, tapi saya kira lebih banyak lagi yang mengucap syukur dan bangkit harapannya tentang masa depan Banten.

Penetapan EMS sebagai bakal pendamping Rano tentu bukan tanpa alasan. Dari sisi teknik politik, alasan pokoknya sangat jelas : PDIP membutuhkan partai koalisi untuk memenuhi ambang batas pemenuhan persyaratan pencalonan; koalisi utamanya adalah PPP yang kemudian disepakati dan dipersilahkan mengajukan calon pendamping untuk Rano. Nah, EMS adalah figur yang diajukan oleh PPP.

Lantas mengapa bukan Jaman, ATN, Wawan atau Ranta ? Lagi-lagi, jika perspektifnya teknik politik, atau lebih “tinggi” kualitasnya dari sekedar teknik, misalnya bolehlah disebut sebagai bentuk fatsoen politik, jawabannya sederhana juga : EMS itu kader PPP, duduk dalam Majelis Syariah DPW PPP Banten. Sangatlah wajar jadinya jika EMS diprioritaskan oleh partainya sendiri.

Hanya saja dalam politik ada semacam sinisme, bahwa panggung depan dan panggung belakang seringkali paradoks; apa yang tampak di depan mata, terdengar di kuping, belum tentu sebangun dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Tetapi dalam konteks ini, saya tidak mau mengikuti arus sinisme itu. Sebaliknya, saya akan membaca dan hendak menawarkan optimisme.

Spirit “Anti Mainstream”

Lepas dari persoalan dinamika internal proses kandidasi di tubuh PDIP dan partai koalisinya, saya membaca sejumlah pesan penting dan menjanjikan optimisme masa depan Banten dari peristiwa penetapan EMS sebagai Cawagub bagi Rano.

Pertama, penetapan ini mencerminkan dengan jelas konsistensi Rano (sebagaimana berkali-kali ia nyatakan dalam berbagai kesempatan) untuk tidak menggandeng keluarga/kerabat Ratu Atut. Dan ini artinya Rano berani keluar dari bayang-bayang mainstream elit dan publik dalam konteks Pilkada di Banten yang orientasi preferensinya cenderung kepada keluarga/kerabat Ratu Atut. Bahkan tokh sekaliber Wahidin pun, politisi senior, petarung politik kawakan tunduk pada arus-utama kepolitikan ini.

Hemat saya, keputusan berani itu patut diapresiasi positif. Dan jika selama ini warga Banten, paling tidak kalangan masyarakat sipil teriak di berbagai medan aktifitas mengingatkan bahayanya praktik dinastokrasi yang korup; shadow state yang merusak tatatanan demokrasi, prinsip-prinsip good governance, dan mencederai keadilan; rezim yang
dikumuhi dengan perilaku bandit pemalak proyek, inilah saatnya untuk move on. Dengan langkah anti-mainstream ini, Rano telah membuka ruang dan memberi sinyal perubahan.

Kedua, sebelum EMS menyeruak di antara kerumunan para ambisius, melejit bagai meteor di langit perhelatan Pilgub, Rano juga beberapa kali mengisyaratkan bahwa ia akan mengambil calon pendamping dari kalangan birokrat. Nama Ranta Suharta (RS), Sekda Provinsi kemudian sempat mengorbit sangat kuat. Konon kabarnya, Rano bahkan sudah menyampaikan nama RS ke Megawati, dan direspon dengan baik. Rano sempat hanya menginginkan RS. Lantas mengapa akhirnya EMS, bukan RS yang mendampingi Rano?

Rano mengalah dan legawa. Inilah saya kira jawabannya. Alasan mengalahnya secara teknik politik diatas sudah dijelaskan. Tapi alasan teknis itu pastilah bukan segala-galanya. Dengan memahami secara utuh sosok EMS dalam konstelasi kepolitikan lokal dan dinamika elektorasi Pilgub saat ini, Rano tampaknya menyadari, bahwa ia harus kompromi dengan hasratnya memajukan birokrat lantaran opsi penggantinya adalah tokoh dengan kaliber integritas pribadi dan akseptabilitas sosial yang unggul. Saya melihat, semangat Rano menawarkan perubahan substantif; membenahi birokrasi, menghabisi praktik-praktik bandit dan KKN, membangun dan menghadirkan kesejahteraan bagi warga Banten, kompatibel dengan sosok EMS.


EMS juga manusia

Lalu siapa EMS dalam lanskap kepolitikan Banten, atau lebih spesifik lagi dalam konstelasi kepolitikan Pilgub saat ini ? Begitu istimewakah, hingga figurnya mampu menyisihkan Jaman yang secara logistik paling siap dan popularitasnya sangat mungkin lebih tinggi; mengenyampingkan ATN, figur yang justru sebelumnya dimak-comblangi untuk jadi pendamping Rano; dan RS yang berhasil disalipnya di tikungan, yang chemistry-nya dengan Rano pastilah lebih kuat.

EMS yang saya kenal adalah pribadi yang santun, someah; guru sekaligus pendidik yang memberdayakan; jawara yang memegang teguh sifat kependekaran sekaligus santri yang setiap saat siap berjihad untuk umat dan bangsa. Sebagai pebisnis, EMS dikenal clean, terobsesi dengan model ekonomi syariah, dan berjiwa sosial.

Kemudian dalam kapasitasnya sebagai salah seorang tokoh penting sejarah pembentukan Provinsi Banten, setiap kali musim pilkada tiba EMS berkali-kali didorong untuk maju, entah sebagai calon bupati, walikota bahkan gubernur. Tapi ia bukan model tokoh ambisius. Ia tak pernah merespon dorongan itu kecuali dengan sikap tawadlunya : masih banyak tokoh lain yang jauh lebih pantas didorong daripada dirinya.

Sekarang EMS maju meski ia tidak pernah mendaftarkan diri dalam proses penjaringan partai-partai politik. Di salah satu koran, ia mengungkapkan bahwa majunya ini lebih merupakan panggilan nurani untuk membantu Rano yang sudah menunjukkan komitmen dan kerja-kerja kongkretnya membenahi Banten. Tentu saja untuk menghadirkan perubahan-perubahan substantif ke depan.

Tetapi bagaimanapun, Embay Mulya Syarief tetaplah juga manusia, tempat dimana salah dan khilaf bisa muncul setiap waktu. Apalagi ini ranah politik, medan profan dimana kepentingan-kepentingan pragmatis kerap menjadi segala-galanya. Karena itu, ia harus dikawal; diingatkan, bahkan dikoreksi jika perlu. Selamat ka haji.

Penulis adalah Agus Sutisna Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) dan STIE La Tansa Mashiro

Ayoo Berlangganan Berita Kami