PERSONA

Suara azan Maghrib belum selesai dikumandangkan. Ahmad Hajaji (41), bergegas masuk ke musala yang ada di perumahan sederhana sehat, Mustika Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Pakaian dinas Satuan Lalu Lintas Polres Kota Tangerang masih melekat lengkap di badannya, dilengkapi peci putih bertengger kokoh menutupi kepala.

 

Tak banyak yang bisa dilakukan seorang guru yang statusnya masih honorer. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, guru honorer harus memiliki penghasilan tambahan karena upah guru honorer masih jauh dari cukup.

Angin berhembus pelan di Pelabuhan Merak, Kamis (7/7/2016) siang. Suasana cerah. Dari kejauhan samar-samar terdengar kumandang takbir. Suaranya tertutup deburan gelombang. Hari itu adalah hari kedua Lebaran 1437 H.

 

Orang-orang modern di perkotaan dihantui rasa cemas; sampah yang setiap hari mereka hempaskan tiba-tiba balik mengancam kehidupan. Sampah hari ini pun menjelma ancaman massal. Tak cukup mengandalkan program pemerintah. Semuanya harus bergerak, terutama mau merubah cara pandang soal sampah.

Waktu tidak akan pernah pernah mau mengulang atau menunggu. Karenanya, merugilah orang-orang yang menyia-nyiakannya. Filosofi waktu itu sepertinya dimafhumi betul oleh Slamet Riyadi, seorang korban PHK yang kini menjadi penggerak industri kreatif di tempat tinggalnya, Jalan Hasyim Ashari, Gang Kemuning, No. 17, RT 001/05, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Memasuki lingkungan SMPN 3 Rangkasbitung, segera saja mata terasa segar. Lingkungan sekolah yang asri membuat pengunjung betah berlama-lama di sini. Tapi, jangan salah. Sekolah ini tak ujug-ujug bersih seperti ini. Ada pelopor yang tak lelah terus membumikan lingkungan sekolah yang sehat.

Ayoo Berlangganan Berita Kami