PERSONA

Sekilas tidak ada yang berbeda dari ruko bernomor C 28/25, Golden Road, CBD BSD, Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) ini.

Yang membedakan ruko tersebut dengan ruko lainnya hanyalah sebuah plang sekira 2,5 x 1 meter yang terpasang di dinding luar atas ruko. "Museum Pustaka Tionghoa Peranakan", begitulah tulisan pada plang dengan warna dasar merah bermotif khas Tionghoa ini.

Memasuki Museum Pustaka Tionghoa Peranakan, segera saja mata akan tertuju kepada deretan literatur tua tentang Tionghoa dari berbagai negara dengan tahun terbitan beragam, mulai dari tahun terbitan 1700.

Yang menarik dari Museum Pustaka Tionghoa Peranakan bukan hanya literatur kuno di dalamnya, melainkan juga sosok Azmi alias Daud (44), pemilik museum ini. Pria lulusan teknik sipil Institut Teknologi Indonesia ini sama sekali tak memiliki keturunan Tionghoa. Dia muslim asal Aceh.       

Museum Pustaka Tionghoa Peranakan ini didirikan Daud pada 7 Januari 2016. Berawal dari hobinya membaca buku, pengusaha buku bekas, buku langka, dan mie aceh ini mengumpulkan berbagai macam buku, mulai dari buku bekas santai hingga buku-buku langka yang memiliki nilai jual tinggi. 

Karena banyak buku-buku berharga yang tidak ingin dijual, Azmi kemudian berinisiatif membuat Museum Pustaka Tionghoa Peranakan, agar literatur tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa harus menjualnya.

"Museum ini merupakan bagian dari literatur langka yang saya kumpulkan, karena jika dijual susah lagi mencarinya. Namun saya ingin literatur tersebut dapat diakses masyarakat banyak, maka terciptalah museum ini," kata Azmi dalam perbincangan dengan wartawan Banten Hits/BTV Yogi Triandono dan juru kamera Muhammad Wildan, Kamis (19/1/2017). 

Diperbarui Jumat, 03 Februari 2017 16:11

Suara azan Maghrib belum selesai dikumandangkan. Ahmad Hajaji (41), bergegas masuk ke musala yang ada di perumahan sederhana sehat, Mustika Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Pakaian dinas Satuan Lalu Lintas Polres Kota Tangerang masih melekat lengkap di badannya, dilengkapi peci putih bertengger kokoh menutupi kepala.

 

Tak banyak yang bisa dilakukan seorang guru yang statusnya masih honorer. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, guru honorer harus memiliki penghasilan tambahan karena upah guru honorer masih jauh dari cukup.

Angin berhembus pelan di Pelabuhan Merak, Kamis (7/7/2016) siang. Suasana cerah. Dari kejauhan samar-samar terdengar kumandang takbir. Suaranya tertutup deburan gelombang. Hari itu adalah hari kedua Lebaran 1437 H.

 

Orang-orang modern di perkotaan dihantui rasa cemas; sampah yang setiap hari mereka hempaskan tiba-tiba balik mengancam kehidupan. Sampah hari ini pun menjelma ancaman massal. Tak cukup mengandalkan program pemerintah. Semuanya harus bergerak, terutama mau merubah cara pandang soal sampah.

Waktu tidak akan pernah pernah mau mengulang atau menunggu. Karenanya, merugilah orang-orang yang menyia-nyiakannya. Filosofi waktu itu sepertinya dimafhumi betul oleh Slamet Riyadi, seorang korban PHK yang kini menjadi penggerak industri kreatif di tempat tinggalnya, Jalan Hasyim Ashari, Gang Kemuning, No. 17, RT 001/05, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Ayoo Berlangganan Berita Kami