Menu

Wilma, Menelusuri Jejak Multatuli di Banten yang Sedang Dililit Korupsi

Banten Hits.com - Eduard Douwes Dekker yang dikenal dengan nama Multatuli, menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Banten pada sekitar tahun 1860 dalam sebuah karya berjudul "Max Havelar".

Pada masa Max Havelaar ditulis, penduduk pribumi hidup dililit kemiskinan, sementara penguasa hidup mewah.

Banten Hits.com - Eduard Douwes Dekker yang dikenal dengan nama Multatuli, menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Banten pada sekitar tahun 1860 dalam sebuah karya berjudul "Max Havelar".

Pada masa Max Havelaar ditulis, penduduk pribumi hidup dililit kemiskinan, sementara penguasa hidup mewah.
Realitas pada 150 tahun silam itu, coba dibandingkan dengan keadaan Banten sekarang oleh Wilma Van Der Maten, seorang jurnalis radio di Belanda.

Wilma datang ke Banten untuk melihat Banten dari dekat. Wilma ingin mendengar, melihat, dan merasakan, adakah perbedaan mental dan perilaku penguasa di Banten dengan masa Max Havelaar, karena Banten kini menjadi sorotan atas perilaku hidup hedonis dan bermewah-mewahan yang dilakukan para penguasanya.

Untuk menangkap realitas saat ini di Banten, Wilma menerobos jalan berlumpur di sebuah perkampungan di Tirtayasa Pontang, Kabupaten Serang,  sampai-sampai sepatunya berlumuran lumpur.

Wilma juga mengetuk pintu sebuah rumah yang berjarak kurang dari limaratus meter dari Pendopo Gubernur Banten, tempat di mana seorang pengidap kanker payudara tinggal. Meski akhirnya di rumah ini Wilma harus kecewa karena yang ingin ditemui ternyata telah meninggal dunia sejak tiga hari lalu, karena sakit tanpa pertolongan medis.

Tak berhenti di situ, Wilma juga mengunjungi sepetak gubug bambu yang dihuni pasangan suami-istri beserta tiga orang anaknya yang tidak sekolah. Gubuk tersebut reyot dan bocor di sana-sini.

Wilma, yang mengaku mengadopsi seorang anak berdarah jawa,  sementara ini berkesimpulan bahwa penguasa Banten saat ini berperilaku dan bermental sama dengan keadaan penguasa 150 tahun lalu.

Untuk melengkapi laporannya, Rabu (12/03/2014), dia meluncur ke Ciseel Badur,  Kabupaten Lebak. Wilma ingin menggali lebih dalam dari sumbernya, tempat di mana Eduard Douwes Dekker menjejakan kakinya dan melihat realita saat itu.

Douwes Dekker  yang memiliki nama pena Multatuli  meninggal pada usia 66 tahun di Ingelheim am Rhein, Jerman 19 Februari 1887. Dia pernah tinggal di Rangkas Bitung selama tiga bulan pada tahun 1860 dan menuliskan pengalamannya dalam bentuk satir yang mengkritik perlakuan buruk para penjajah dan penguasa terhadap penduduk pribumi.(Rus)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top