id

Membaca Alam Kritik Edi Bonetksi lewat Seni Instalasi

By  Okt 31, 2016 | 07:55
Seniman serba bisa Edi Bonetski dengan karyanya "Tjhong On".(Banten Hits/ Maya Aulia Apriliani)

Panggung politik--baik lingkup Indonesia maupun lokal di Banten--tengah ingar bingar. Slogan-slogan dan janji manis ditebar dari jagat maya hingga merambah ke dunia nyata. Lalu di mana seni? Sembunyi atau justru unjuk diri menarik garis tegas soal posisi.

Pertanyaan itu akan terjawab dengan membaca seni instalasi karya seniman serba bisa Edi Bonetski yang dipamerkan bersama karya-karya perupa lainnya di Banten dalam pameran bertajuk KEMON ROY! di Gedung KNPI Kota Tangerang, Jalan A. Damiyati, Kota Tangerang, 24 Oktober-2 November 2016.

Salah satu karya Edi Bonetski yang dipamerkan dalam hajat seni tersebut seni instalasi kontemporer Tjong On yang berarti lekas sembuh. Dalam karyanya ini, patung-patung orang penggambaran politisi terlilit pita warna-warni. Di sekelilingnya, potongan aspal dibentuk menyerupai peta Indonesia. Setiap potongan aspal diberi keterangan tulisan seperti NJOP, SmartCity, Loby X, REK, Party, RI, Fragile, Kemon Roy!, dan Tjhong On.

Lewat Tjhong On ini, Edi memberikan gambaran soal kondisi politik, sosial, dan birokrasi, baik dalam lingkup lokal di Provinsi Banten, maupun lingkup yang lebih luas Indonesia. Bagaimana dalam siklus lima tahunan politisi harus terjerat janji-janji manisnya sendiri. Pangkalnya, karena otak sang politis sudah terjerat dengan racun kekuasaan.

"Sehingga mulutnya menjadi busuk. Politikusnya hobi melobi sana sini agar keinginannya bisa tercapai. Lalu setelah itu minta Nomor rekening bagi-bagi uang hasil lobi, lalu hambur-hambur uang berpesta," kata Edi.

Dari semua keadaan tersebut, Edi mengajak masyarakat untuk berubah tidak ikut dalam kebiasaan politisi busuk dan mendoakan secara keseluruhan supaya Indonesia lekas sembuh lewat karyanya tersebut.  

"Pelaku seni yang sebenarnya adalah yang hadir di tengah-tengah masyarakat, persoalan sampai atau tidak itu urusan belakangan. Apa artinya berkesenian bila dia terpisah dari masyarakat. Masyarakat harus berinteraksi dalam sebuah karya," ujarnya.

"Pemuda hari ini bukan pemimpin hari esok. Pemuda hari ini dengkulmu hari ini. Sinyal kuat daya gedornya rendah. Senang berada di zona nyaman dan ruang nyaman, belum menjadi manusia pembelajar," sambung Edi.

Di zaman digital seperti saat ini, kata Edi, jarang sekali pameran lukisan ramai dikunjungi, terutama oleh generasi muda. Gaya hidup yang sudah bergeser ke arah digital yang seolah tidak terbatasi, membuat yang jauh terasa dekat maupun yang dekat terasa jauh. 

"Makna hidup sudah bergeser dari yang hidup di kehidupan nyata, menjadi hidup di kehidupan online. Saat ini orang sibuk menjadi kekinian, dalam bentuk online, generasi muda sekarang menjadi budak digital," ucapnya.

Edi Bonetski meyakini, lukisan merupakan ayat visual yang menggambarkan berbagai ayat dalam Al-Quran. Edi menunjuk salah satu seni lukis kaligrafi. Menurutnya, lukisan tersebut merupakan ayat visual yang berbentuk 'qowniyah', di mana ayat Al Quran digambarkan menjadi sebuah gambaran yang secara riil menggambarkan ayat tersebut.

"Lukisan ini juga merupakan ayat-ayat yang tersembunyi tapi berbentuk visual. Coretan warna, seperti orang kelaparan, perusakan lingkungan oleh manusia, bergantinya fungsi alam, bagaimana politisi yang begitu busuk bibirnya setiap lima tahun sekali, dan lain sebagainya," ujarnya.(Rus)

Maya Aulia A

Perempuan supel kelahiran Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang ini memiliki talenta mengajar sesuai bidang kuliahnya di Universitas Negeri Jakarta. Bergabung di Banten Hits adalah karir perdananya di bidang jurnalistik.

Ayoo Berlangganan Berita Kami