Historia

Sejarah Saudara Kandung dalam Hubungan Banten-Lampung

Written by Darussalam Jagad Syahdana on .

Hubungan Provinsi Banten dengan Provinsi Lampung jika menilik pengalaman masa lampau, ternyata tak sekadar hubungan antardaerah otonom dalam wilayah kesatuan Indonesia. Hubungan Banten dengan Lampung dibentuk oleh perjalanan sejarah saudara kandung yang saling melengkapi dan mendukung.

Dalam rubrik Historia kali ini, redaksi Banten Hits.com akan mencoba memaparkan peristiwa masa lalu, yang kemudian membekas jadi fakta dalam kekinian kaitan hubungan Banten dengan Lampung. Tulisan ini seluruhnya bersumber dari makalah Husin Sayuti berjudul "Hubungan Lampung dan Banten dalam Perspektif Sejarah". Makalah ini dibukukan dalam kumpulan makalah diskusi berjudul "Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutera".

Jika kita berkunjung ke Lampung, ada pengetahuan yang lazim diketahui oleh masyarakat Lampung. Di Lampung, ketika kita menemukan kuburan-kuburan kuno dan keramat, maka pada umumnya orang akan menyebut kuburan itu sebagai Kyai Banten. Bahkan di Kedaton, sebuah bukit memiliki sebutan Gunung Banten karena di lereng bukti tersebut terdapat sebuah kuburan yang diyakini seorang kyai asal Banten.

Tempat lainnya adalah Desa Pager Dewa, sebuah desa di pedalaman Lampung persis di hulu tepi sungai Tulang Bawang. Di tempat ini juga terdapat makan kuno kyai Banten yang dikeramatkan. Bahkan konon kabarnya, kampung ini pernah dikatakan sebagai pusat Kerajaan Tulang Bawang yang telah menganut ajaran Islam.

Nama Tulang Bawang selalu dikaitkan dengan kerajaan kuno di Lampung yang pernah ada pada abad kelima, keenam, ketujuh. Namun demikian, pusat kerajaan tersebut hingga saat ini masih belum ditemukan.

Fakta lainnya dapat kita temui di Bandar Lampung, persisnya di Kampung Kaliawi, Durian Payung, Gedung Pakuan, Kuripan, Tanjung Gading. Tempat-tempat tersebut adalah tempat bermukimnya penduduk yang berasal dari Banten. Hal tersebut mungkin cukup beralasan, mengingat jarak antara Banten dan Lampung sangat dekat.

Bahkan pada masa lalu, penduduk Banten tetap tinggal di Banten, namun ladang-ladang (huma) mereka berada di Lampung.

Eratnya hubungan masyarakat Banten dengan Lampung, pernah diuji dalam masa Kesultanan Banten Sultan Ageng Tirtayasa, persisnya ketika Sultan Ageng Tirtayasa terlibat perang saudara dengan anak kandungnya sendiri Sultan Haji yang didukung oleh Belanda.

Meski Sultan Ageng Tirtayasa kalah dan harus menyerahkan Lampung sebagai imbalan untuk VOC yang telah membantu Sultan Haji, namun hubungan penduduk Banten dengan Lampung tetap istimewa. Menyebut Banten bagi orang Lampung, adalah tempat yang baik untuk menuntut ilmu, mengabdi bahkan persiapan untuk memerintah Lampung.

Hubungan Banten dengan Lampung ini, ditandai dengan piagam tembaga yang ditemukan di rumah kediaman kerabat Raden Intan di Kampung Kuripan yang membuktikan permulaan masuknya pengaruh Banten di Lampung.

Menilik isinya, lebih kurang merupakan perjanjian persahabatan , apalagi bila diingat piagam ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin dari Banten dan Ratu Darah Putih dari Keratuan Darah Putih (Lampung). Keduanya diketahui sebagai putra-putri Fatahilah yang berlainan ibu..

Share