id

Pemuda Menes Unjuk Kreativitas, Drum Bekas Disulap Jadi Barang Rumahan Berkelas

By  Jan 07, 2017 | 10:49
Produk barang rumahan berkelas dari drum bekas karya pemuda asal Kecamatan Menes, Pandeglang yang dinamai District of Art (DOA).(Banten Hits/ Saepulloh)

 

Dunia usaha modern telah melahirkan kompetisi yang sengit. Yang menang atau sekadar bertahan hanyalah mereka yang memiliki kreativitas tanpa batas. Itulah mungkin hukum alam baru di jagat bisnis hari ini.

Dengan kreativitas itu pula, sekelompok pemuda asal Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang mencoba merintis ekonomi kerakyatan. Mereka menyulap drum-drum bekas tak terpakai menjadi barang-barang rumah berkelas, seperti kursi dan meja.

Wartawan Banten Hits Saepulloh berkesempatan mewawancarai tujuh pemuda kreatif asal kecamatan yang berada di kaki Gunung Pulosari dan Aseupan ini.

Berawal dari gagasan menciptakan lapangan pekerjaan dengan membangunan ekonomi kerakyatan, tujuh pemuda yang memiliki darah seni merubah drum bekas menjadi aksesoris rumah yang kental dengan nilai seni yang tak kalah bagus dari keluaran pabrik.

"Awal kita ini membuat gagasan melek mapan, membangun ekonomi yang berbasis kerakyatan di Pandeglang," ungkap Ade Wahyudi salah satu kreator kepada Banten Hits, Sabtu (7/1/2017).

Sebelum muncul gagasan mengolah limbah bekas oli tersebut, awalnya mereka memfokuskan di bidang agrobisnis pada budidaya jamur. Namun berdasarkan hasil survei di lapangan, budidaya itu memiliki beberapa kelemahan, seperti kondisi cuaca dan pangsa pasar.

Kemudian mereka bertujuh di antaranya Ade Wahyudi Pelaku ,Arifia, Encep Najawar samsu, Dapik, Andri anhari, Samsul Rijal dan Farhan berkumpul membuat gagasan baru dan membuat produk yang mereka namai District of Art (DOA).

"Setelah itu kita kumpul lagi dan ternyata di sini banyak seniman dan di sinilah sumber utamanya adalah kesenian. Akhirnya kita bersepakat membuat limbah ini jadi bernilai kembali," jelasnya.

Karya-karya seniman asal Pandeglang tersebut saat ini sudah memilik dua produk unggulan yang belum diberi nama tipenya. Meski begitu, desain yang mereka buat dikhususkan untuk interior. Proses pembuatan satu tipe produk ini sampai ke finishing memakan waktu sampai satu minggu.

Meskipun gagasan yang dipadukan dengan kreativitas ini masih berusia seumur jagung, yakni tiga bulan lalu, hasil karya-kerya mereka ini patut diacungi jempol.

"Kita bergerak memang masih baru. Tetapi setelah kita promosikan sudah banyak yang memiliki ketertarikan terutama di luar Pandeglang seperti Jakarta, Bogor dan Serang," katanya.

Nah, bagi Anda yang berminat dengan meja dan kursi unik dari drum bekas ini, Anda bisa datang ke lokasi produksi di Jalan Raya Printis Kemerdekaan, Kampung Kadu Kading, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Soal harga, jangan khawatir, benda berkelas di sini dipatok dengan harga bersahabat.  

Anda bisa memilih paket-paket penjualan barang rumahan karya pemuda Menes ini, seperti paket 1 seharga Rp 3,5 juta untuk satu kursi sofa panjang, dua kursi bulat dan sebuah meja. Kemudian paket 2 seharga Rp 2 juta untuk dua kursi bulat dan satu meja. Anda juga bisa memesannya dengan model sesuai keinginan Anda.

"Bisa juga tipe yang lain sesuai pesanan customer yang kita kasih desainya," pungkasnya.(Rus)

Saepulloh

Pria kelahiran Serang ini besar dalam gemblengan PMII. Semasa kuliah dulu, Aep--nama panggilannya--pernah menjabat Ketua Rayon PAI, Pengurus Komisariat PMII 2012, dan Pengurus Cabang PMII Pandeglang 2014. Dia memulai karir jurnalistik di Banten Hits.

Ayoo Berlangganan Berita Kami